Selasa, 19 November 2013
TANAH
Tanah merupakan suatu hasil proses
alam yang terdiri dari fase padat, cair dan gas dengan ketebalan bervariasi
dari beberapa cm hingga beberapa m yang menyelimuti permukaan bumi. Tanah juga merupakan
sumberdaya alam yang berperan
sangat penting bagi kehidupan
manusia seperti tempat berpijak,
mendirikan bangunan serta memenuhi berbagai kebutuhan manusia seperti misalnya
kebutuhan yang berasal dari flora dan
fauna yang hidup diatasnya untuk
memenuhi kebuhuan pangan, sandang, bahan baku industri, obat-obatan, perumahan, dll. Hingga saat ini belum ada sumberdaya alam
selain tanah yang mampu menggantikan
fungsi tanah dalam menghasilkan
kebutuhan manusia yang berasal dari tanah.
Tanah
yang menutupi permukaan bumi kita ini mempunyai tingkat kemampuan yang tidak
sama untuk dikembangkan sebagai lahan
pertanian. Tingkat kemampuan ini dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain : sifat fisik
tanah (tekstur, ketebalan solum, keadaan batuan), kondisi
topografi (kemiringan lereng, panjang lereng), drainase, keadaan
genangan air, dan bahaya banjir.
Setiap jenis penggunaan tanah
harus sesuai dengan tingkat kemampuannya,
dan dalam pengelolaannya tanah harus diperlakukan sesuai dengan
syarat-syarat dan cara-cara tertentu yang
diperlukan agar tanah tidak cepat menjadi rusak. Faktor-faktor yang sering menimbulkan kerusakan tanah adalah akibat
erosi, pengurasan zat hara dizone
perakaran karena terangkut panen,
berkurangnya tingkat kandungan bahan organik dalam tanah karena tidak
adanya pengembalian bahan organik ke dalam tanah, dan akumulasi senyawa-senyawa
kimia yang besifat beracun dalam tanah.
Di Indonesia,
akibat ketidakmengertian ataupun
kelalaian manusia dimasa lampau,
jika dilihat dari segi penggunaan dan
pengeloaan tanah tanpa memperhatikan faktor-faktor
tersebut di atas telah mengakibatkan timbulnya kerusakan tanah dan
berkembangnya lahan kritis yang cukup
serius. Pada tahun 1980, luas lahan kritis di Indonesia
diperkirakan telah mencapai 39 juta ha
dari 190 juta ha luas daratan Indonesia dan diperkirakan laju pertambahannya
1-2 % setiap tahunnya (Arsyad, 1985).
Jika diperhatikan faktor pembatas atau
penghambat tersebut di atas, maka luas
lahan yang potensial untuk dapat
dikembangkan sebagai lahan pertanian di permukaan bumi kita ini sangat
terbatas artinya luas lahan yang tidak
potensial jauh melebihi jumlah luas
lahan yang potensial. Jika tanah
yang potensial ini terus-menerus mero-sot kesuburannya akibat
kesalahan dalam pengelolaannya, tidak
mustahil luasnya semakin berkurang
karena berubah menjadi tanah yang
tidak subur, tanah tandus, tanah terlantar, tanah kritis, kondisi ini pasti
akan mengancam kehidupan manusia di atas permukaan bumi kita ini.
Uraian dalam bab
ini merupakan dasar pokok dalam mempelajari bab-bab selanjutnya dan apabila
saudara sudah selesai
membaca bab ini diharapkan
saudara dapat “menjelaskan macam-macam kerusakan tanah dan faktor- faktor
penyebabnya dengan baik”.
1.
1 Fungsi tanah
Tanah mempunyai fungsi yang berbeda-beda tergantung latar belakang atau minat orang yang memandangnya. Seorang insinyur tambang, misalnya memandang
tanah sebagai sesuatu yang harus
disingkirkan, disini mereka memandang tanah berfungsi sebagai suatu penghalang
bagi mereka untuk mendapatkan hasil tambang yang mereka inginkan. Seorang pembuat batu bata memandang tanah
sebagai sesuatu yang bisa dipindahkan, dicampur
dengan air, diinjak hingga membentuk pasta lalu dicetak menjadi batu
bata, tanah pasir tidak berarti bagi mereka, disini mereka memandang tanah
berfungsi sebagai bahan baku pembuatan batu bata. Seorang petani memandang tanah sebagai
hamparan lahan yang dapat dibajak, dicangkul, dibalik, diinjak dan dapat
ditanami dengan komoditas pertanian, jadi mereka memandang tanah berfungsi
sebagai media produksi pertanian dan
lain sebagainya. Ilmu tanah memandang tanah melalui dua konsep (Arsyad,
1985), yaitu: 1) pedologi, 2) edaphologi,Purwowidodo (1991 dalam Gusmara, 2002) menambah satu konsep, yaitu : 3) ilmu tanah
keteknikan (rekayasa).
Pedologi
merupakan kajian tanah yang memandang tanah sebagai hasil proses bio-fisiko kimia yang menyatakan bahwa tanah merupakan suatu tubuh
alam mandiri mempunyai ciri khas yang membedakannya dengan
bahan induk yang ada dibawahnya. Pada dasarnya konsep ini tidak mengkaji fungsi
tanah tetapi memfokuskan dari sisi
asalusul, proses pembentukan, isi kandungan, perkembangan dan penyebarannya.Dari konsep ini timbul
spesialis ilmu fisika, kimia, biologi, mineralogi, genesis dan klasifikasi
tanah.
Edaphologi
merupakan kajian tanah yang memandang tanah sebagai habitat flora dan fauna dengan lima
fungsi utama yaitu sebagai:
sumber zat hara bagi
tanam
an, tempat berdiri dan akar tanaman
berjangkar, gudang zat hara dan air tersimpan, penyedia zat hara dan air bagi tanaman, tempat zat hara dan air ditambahkan.
Ilmu tanah keteknikan (rekayasa)
atau enginering soil science memandang
tanah dari sisi aspek non
pertanian. Pakar tanah keteknikan memandang
tanah sebagai bahan–bahan yang lepas yang berada di atas bahan induk dan mereka
tertarik pada pengetahuan bagiamana tanah akan bereaksi sebagai bahan rekayasa
jika diberi beban. Menurut pengertian ini tanah berfungsi
sebagai prasarana fisik untuk menempatkan
bangunan. Tiga watak tanah yang menjadi perhatian mereka, yaitu : 1)
ketahanan suatu massa tanah terhadap perubahan volume sebagai akibat perubahan
beban, 2) kemampuan suatu massa tanah menahan gaya geser atau pemindahan
lateral dalam keadaan terkena beban, dan 3) perubahan massa tanah jika terkena
pengaruh perubahan volume dan ciri-ciri geseran, atau akibat adanya perubahan
kadar air. Watak lain yang lebih
spesifik menjadi perhatian mereka adalah gradasi, kerapatan jenis, kelengasan,
konsistensi, kerapatan massa, dan ketahanan tanah terhadap gaya penetrasi.
Pada pembahasan selanjutnya fungsi
tanah yang akan dibicarakan dalam kaitannya dengan KTA adalah konsep edaphologi yang memandang tanah
berfungsi sebagai habitat bagi flora dan fauna.
Konsep ini dapat mengidentifikasi dan menjelaskan kenapa terjadi
perbedaan produktivitas dan kemampuan
penggunaan tanah, mengembangkan cara-cara meningkatkan produktivitas tanah,
memelihara kelestarian tanah dan memperbaiki tanah yang rusak.
1.
2 Kerusakan tanah
Sebagimana telah dikemukakan
sebelumnya bahwa tanah merupakan sumberdaya alam dapat berfungsi sebagai habitat bagi flora dan
fauna dengan lima fungsi utama. Kelima
fungsi tersebut bisa berkurang bahkan habis samasekali disebabkan kerusakan
tanah. Diantaranya ada yang mudah diperbaharui,
semntara yang lainnya sulit bahkan
samasekali tidak dapat diperbaharui.
Kehilangan fungsi pertama karena kekurangan zat hara dapat diatasi melalui pemupukan, namun
hilangnya fungsi kedua memerlukan waktu yang lama, perlu waktu puluhan bahkan
ratusan tahun untuk pemulihannya.
Kerusakan tanah dapat digolongkan
kedalam kerusakan secara fisik, kimia dan biologi. Kerusakan secara fisik, yaitu : kerusakan struktur, pemadatan ; kerusakan kimia yaitu :
kehilangan zat hara di zone perakaran,
terakumulasinya senyawa beracun; kerusakan biologi : berkurangnya aktivitas biota tanah
akibar berkurangnya bahan organik.
Kerusakan
struktur tanah dan pemadatan tanah dapat disebabkan oleh berbagai faktor,
seperti curah hujan, hewan, mesin-mesin yang beroperasi di atas tanah, erosi,
pengolahan tanah dan penggusuran tanah.
Pengaruh hujan biasanya hanya terbatas pada lapisan atas dari profil tanah, sementara lapisan
dibawahnya masih tetap pada tingkat kepadatan semula. Kepadatan tanah yang disebabkan oleh hewan dan mesin dapat menjangkau lapisan
yang lebih dalam hingga kedalaman 40 cm (Hermawan, 2001). Kepadatan yang disebabkan oleh erosi pada
tanah yang dengan solum dangkal dan berlereng
menyebabkan lapisan top soil terkelupas, sementara lapisan bahan induk terungkap
Dua
faktor pengolahan tanah yang berpengaruh terhadap kerusakan tanah yaitu,
frekuensi pengolahan tanah dan kedalaman pengolahan tanah. Frekuensi pengolahan tanah yang terlalu
sering menyebabkan kerusakan struktur
tanah dan aerasi tanah. Pengolahan tanah
terlalu dalam menyebabkan pembalikan dan
pencampuran tanah dengan tanah lapisan bawah (subsoil) yang tidak subur.
Pada kebanyakan tanah yang belum terganggu, ketebalan top soil yang
subur sekitar 7-20 cm sehingga kedalaman olah tanah melebihi
kedalaman top soil ini dapat mengganggu perkembangan perakaran.
Cara lain
kerusakan tanah secara fisik adalah disebabkan oleh penggusuran tanah di lalan-lahan tambang dan
sebagainya. Massa tanah dalam jumlah
besar dikeruk, didorong dan ditumpuk di atas top soil di lokasi sekitarnya,
akibatnya top soil di loksi ini terkubur jauh di bagian bawah.
Sementara tanah bekas gusuran terkelupas
menyisakan lapisan bahan induk bahkan mungkin batuan induk yang samasekali
tidak subur dan secara keseluruahn tanah
menjadi sangat rusak. Kerusakan ini
terjadi dari berbagai sebab antara lain,
bercampuraduknya massa tanah menimbulkan berbagai kerusakan fisik maupun
kimia, terkuburnya lapisan top
soil yang subur, terinjak alat-alat
berat yang beroperasi di atas tanah dan terungkapnya bahanan induk bahkan
batuan induk kepermukaan.
Penggusuran tanah ini umumnya terjadi di lahan-lahan tambang
khususnya tambang terbuka, separti tambang batubara, emas, tembaga dan
sebagainya meliputi luasan ratusan bahkan ribuan kektar.
Kerusakan tanah
secara kimia disebabkan hilangnya secara berlebihan satu atau berepa macam zat
hara di
zone perakaran dan akumulasi senyawa-senyawa beracun di lapisan
permukaan tanah. Hilangnya zat hara dalam
jumlah yang berlebihan di zone perakaran disebabkan oleh pencucian yang intensif didorong oleh
perombakan bahan organik dan pelapukan mineral yang cepat di bawah kondisi
iklim tropis yang basah dan lembab,
hilangnya zat hara karena terangkut melalui panen tanpa adanya upaya
pengembaliannya, dan erosi yang dipicu oleh
pembakaran tumbuhan penutup tanah dan
hutan yang berkepanjangan dan kesalahan dalam penegelolaan lahan pertanian mempercepat pencucian dan
pemiskinan secara kimia.
Akumulasi senyawa-senyawa beracun antara lain disebabkan
terungkapnya liat masam kepermukaan sebagai akibat dari pengeringan rawa di
daerah dengan kandungan asam sulfat dan
unsur Fe yang tinggi, pencucian
basa-basa secara intensif dibawah kondisi iklim tropika basah dan lembab menyisakan residu unsur mikro Al, Fe dan Mn dalam jumlah yang
berlebihan dan tidak dapat ditolerir oleh tanaman, akumulasi garam-garam netral seperti NaCl, CaCO3, CaMg(CO3)2
di daerah iklim kering atau di daerah-daerah tertentu seperti disepanjang
pantai, gurun pasir, gunung kapur dan sebagainya.
Termasuk kerusakan tanah secara kimia disebabkan oleh
bertambahnya bahan kimia dalam pertanian
seperti pertisida (insektisida, fungisida dan herbisida) timbul kemungkinan
terakumulasinya bahan tersebut yang dapat merupakan racun bagi tanaman. Limbah indutri yang tidak terkendali
baik padat, cair dan gas tidak tertutup kemungkinan adanya
senyawa-senyawa yang bersifat racun bagi
tanaman.
Kerusakan tanah
secara biologi akibat berkurangnya biota tanah
yang disebabkan oleh berkurangnya kandungan bahan organik karena
perombakan bahan organik yang berlangsung secara intensif, erosi yang kronis menyebabkan kehilangan
lapisan top soil, tanpa adanya panambahan bahan organik ke dalam tanah, dan
kebakaran hutan sepanjang tahun dapat menyebabkan pemiskinan bahan organik dan
biota tanah.
1. 3
Dampak kerusakan tanah
Kerusakan tanah secara fisik
seperti rusaknya strutur tanah, pemadatan tanah, campuraduk massa tanah lapisan
atas dengan lapisan bawah menyebabkan
terganggunya aerasi tanah, ketersediaan air dan zat hara, dan
terbatasnya perkembangan akar tanaman
sehingga tanah tidak mampu memberi daya dukung secara normal bagi pertumbuhan
tanaman dan produktivitas tanah menjadi
sangat rendah.
Kepadatan tanah karena terungkapnya
bahan induk, campur aduk massa tanah lapisan atas dan lapisan bawah
pemulihannya jauh lebih sulit daripada kepadatan yang disebabkan terinjak hewan dan
mesin-mesin yang broperasi di atas tanah
sedangkan yang terinjak mesin penanggulangannya lebih sulit daripada
terinjak hewan. Kerusakan tanah tipe
pertama di atas pemulihannya perlu usaha rehabilitasi tanah melalui konservasi secara vegetatif,
kimia dan mekanik.
Kerusakan tanah secara kimia
seperti tercucinya satu atau beberapa zat hara di zone perakaran dan
terangkutnya melalui panen, akumulasi zat-zat kimia beracun pada lapisan
permukaan tanah pengaruhnya tergantung tingkat kerusakannya. Pencucuin zat hara dan terangkutnya melalui panen relatif mudah
untuk ditanggulangi, misalnya melalui pemupukan. Akumulasi senyawa-senyawa beracun dampaknya
lebih berat dan penanggulangannya lebih sulit.
Kelebihan unsur mikro seperti Al, Fe dan
Mn, misalnya dampaknya tidak saja bersifat langsung yaitu berupa racun bagi tanaman, melainkan pH tanah menjadi sangat rendah atau tanah menjadi
sangat masam dengan pH kurang dari 4,5.
Kebanyakan tanaman pertanian tumbuh dan berproduksi secara normal dengan
pH sekitar 5,6–6,5 (Hakim dkk. 1986). Tanah terlalu masam perlu usaha pengapuran,
misalnya dengan dolomit : CaMg(CO3)2, atau kalsit
: CaCO3.
Akumulasi liat masam atau cat clay dampknya lebih buruk karena
oksidasi pirit (FeS2) menjadi asam sulfat menyebabkan reaksi tanah menjadi sangat
masam atau pH sekitar 2-4 sehingga tanaman tidak dapat tumbuh dan berproduksi
dengan normal. Bertambahnya pemakaian
bahan kimia dalam pertanian dalam jumlah berlebihan dapat mengganggu
pertumbuhan tanaman, misalnya pemakaian diuron sebagai herbisida untuk
pengendalian gulma pada tanaman kapas menyebabkan tergangggunya pertumbuhan
salada, wortel, tomat dan mentimun yang ditanam sesudah kapas (Wadleight and
Dyal, 1970 dalam Arsyad, 1985).
Di daerah iklim tropika basah seperti di Indonesia kerusakan tanah lebih
banyak disebabkan oleh erosi. Kerusakan ini meliputi kerusakan
secara fisik, kimia dan biologi dengan
berbagai dampak baik langsung maupun tidak langsung. Secara
langsung, pada tanah yang terkena erosi,
tanaman atau tumbuhan tidak dapat tumbuh secara normal sehingga tanah
menjadi tidak produktif dan
berkembang menjadi tanah kritis. Secara tidak langsung, waduk, danau, sungai,
saluran irigasi dan drainase di daerah hilir mengalami pendangkalan akibat endapan lumpur yang hanyut terbawa air
sehingga masa guna dan daya gunanya menjadi berkurang. Dampak lainnya secara tidak langsung terjadi
banjir di musim kemarau dan kerkeringan yang drastis di musim kemarau.
RANGKUMAN
Tanah
mempunyai fungsi yang berbeda-beda
tergantung pada kepentingan dan cara
orang yang memandangnya. Ilmu tanah
memandang tanah dari tiga konsep, yaitu sebagai
konsep : pedologi, edaphologi, dan ilmu tanah keteknikan (rekayasa).
Pedologi memandang tanah sebagai tubuh alam mandiri yang membahas
asal-usul, genesis, bahan penyusun, perkembangan, klasifikasi dan
penyebarannya. Jadi kajian pedologi
dapat dipandang sebagai ilmu tanah murni.
Edaphologi memandang tanah sebagai
habitat tumbuhan dengan lima fungsi utama, yaitu : sebagai sumber zat hara,
tempat berdiri dan akar berjangkar,
penyedia zat hara dan air, gudang zat hara dan air tersimpan, dan tempat
zat hara dan air ditambahkan
Dalam bidang ini tanah
berfungsi sebagai habitat tumbuhan, tempat berlangsungnya kehidupan flora dan
fauna dan merupakan faktor produksi bagi
pertanian.
Ilmu tanah keteknikan
memandang tanah sebagai kumpulam materi di atas batuan induk. Yang menjadi perhatian pakar dalam bidang ini
adalah bagaimana tanah bereaksi jika
diberi beban. Jadi menurut kajian
ini tanah berfungsi sebagai bahan yang
akan menerima beban untuk meletakkan
suatu pondasi bangunan.
Sifat-sifat tanah yang menjadi perhatian mereka, seperti gradasi,
kerapatan jenis, kelengasan, kerapatan massa, konsistensi, ketahanan tanah terhadap
gaya geser secara lateral dan penetrasi.
Kerusakan
tanah digolongkan ke dalam
kerusakan secara fisik, antara
lain :: kerusakan struktur tanah, kepadatan tanah, sebagai dampak dari tindakan pengolahan
tanah, akibat erosi, terinjak hewan ternak dan alat-alat berat yang beroperasi
di atas tanah. Kerusakan secara kimia,
misalnya : kehilangan zat hara dizone perakaran, akumulasi senyawa-senyawa
beracun di lapisan atas sebagai akibat
kesalahan dalam tindakan pengelolaan tanah dan akibat erosi. Kerusakan secara
biologi, seperti : berkurangnya aktivitas biota tanah karena pemiskinan tanah
terhadap bahan organik disebabkan kesalahan dalam tindakan pengelolaan tanah
dan akibat erosi.
Dampak kerusakan
tanah secara fisik mengakibatkan rusaknya pori-pori tanah dan aerasi tanah,
terganggunya ketersediaan air, udara dan ketersediaan zat hara menyebabkan
tanaman tidak dapat tumbuh dan
berproduksi sacara normal. Dampak
kerusakan tanah secara kimia seperti berkurangnya zat hara di zone perakaran
relatif mudah mudah mengatasinya, misalnya melalui pemupukan, akan tetapi
kerusakan tanah akibat akumulasi senyawa-senyawa beracun memberi dampak yang
jauh lebih buruk mulai dari berkurangnya produksi hingga tanaman tidak dapat
berproduksi sama sekali.
Erosi memberi
dampak yang lebih luas bagi daerah yang terkena erosi langsung di bagian hulu,
jika erosi terus berlangsung maka tanah menjadi kritis. Di daerah hilir yang terkena endapan erosi
seperti : danau, waduk, sungai, saluran irigasi dan drainasi mengalami
pendangkanlan sehingga daya guna dan masa gunanya menjadi berkurang, dan
terjadi banjir dimusim penghujan dan
kekeringan yang drastis di musim kemarau.
LATIIHAN
1.
Sebutkan dan jelaskan perbedaan pokok pengertian tanah
menurut bidang pertanian dan non pertanian
2.
Sebutkan dan jelaskan perbedaan pokok fungsi
tanah menurut konsep
pedologi,
edaphologi
dan ilmu tanah keteknikan (rekayasa)
3.
Jelaskan faktor
penyebab kerusakan tanah secara fisik, kimia dan biologi tanah
4.
Sebutkan macam-mcam kerusakan tanah secara fisik, kimia dan
biologi tanah
5.
Sebutkan macam-macam dampak kerusakan tanah secara fisika,
kimia dan biologi tanah.
10.11 by Muhammad Ali Alfi · 0
Selasa, 23 April 2013
HAMA UTAMA TANAMAN KELAPA DAN KELAPA SAWIT SERTA PENGENDALIANNYA
HAMA UTAMA TANAMAN KELAPA DAN KELAPA SAWIT SERTA
PENGENDALIANNYA
A. Hama
Perusak Pucuk
1. Kumbang
nyiur (Oryctes Rhinoceros)
Ciri-ciri
: bentuk kumbang dengan ukuran 20-40 mm warna hitam dengan bentuk cula pada
kepala Gejala: (1) hama ini merusak tanaman yang berumur 1-2 tahun; (2) tanaman
berumur 0-1 tahun, lubang pada pangkal batang dapat menimbulkan kematian titik
tumbuh atau terpuntirnya pelepah daun yang dirusak; (3) pada tanaman dewasa
terjadi lubang pada pelepah termuda yang belum terbuka; (4) ciri khas yang
ditimbulkan yaitu janur seperti digunting berbentuk segi tiga; (5) stadium yang
berbahaya adalah stadium imago (dewasa) yang berupa kumbang; Pengendalian: (1)
sanitasi kebun terhadap sisa-sisa tebangan batang kelapa; (2) menggunakan virus
Bacullovirus oryctes dan Mettarrizium arrisophiae; (3) memberikan carbofura
(furadan 3G) atau carbaryl (sevin 5G) 10/pohon dengan interval 2 bulan sekali.
2. Kumbang
sagu (Rhynchophorus ferruginous)
Ciri:
imago, berbentuk kumbang dengan masa perkembangan 11-18 hari. Ciri khas nya
adalah tinggal di kokon sampai keras. Gejala: merusak akar tanaman muda, batang
dan tajuk, pada tanaman dewasa merusak tajuk, gerekan pada pucuk menyebabkan
patah pucuk, liang gerekan keluar lendir berwarna merah coklat. Pengendalian:
(1) hindari perlukaan, bila luka dilumuri ter; (2) potong dan bakar tanaman
yang terserang; (3) sanitasi kebun; (4) secara kemis dengan insektisida Thiodan
35 EC 2-3 cc/liter larutan, Basudin 10 G dan sevin 85 SP pada luka dan
diperkirakan ada serangan Kumbang sagu;
B. Hama
Perusak Daun
1. Sexava
sp
Ciri:
belalang sempurna dengan ukuran 70-90 mm, berwarna hijau kadang-kadang coklat.
Masa perkembangan 40 hari. Gejala: (1) merusak daun tua dan dalam keadaan
terpaksa juga merusak daun muda, kulit buah dan bunga-bunga; (2) merajalela
pada musim kemarau; (3) pada serangan yang hebat daun kelapa tinggal
lidi-lidinya saja.
Pengendalian:
(1) cara mekanis: menghancurkan telur dan nimfanya, menangkap belalang (di
Sumatera dengan perekat dicampur Agrocide, Lidane atau HCH, yang dipasang
sekeliling batang) untuk menghalangi betina bertelur di pangkal batang dan
menangkap nimfa yang akan naik ke pohon; (2) cara kultur teknis: menanam
tanaman penutup tanah (LCC), misalnya Centrosema sp., Calopogonium sp., dan
sebagainya; (3) cara kemis: menyrmprot dengan salah satu atau lebih
insektisida, seperti BHC atau Endrin 19,2 EC 2cc/liter air, menyemprotkan
disekitar pangkal batang sampai tinggi 1 meter, tanah sekitar pangkal batang
diameter 1,5 m 6 liter/pohon. Insektisida lain yang dapat digunakan: Sumithion
50 EC, Surecide 25 EC, Basudin 90 SC atau Elsan 50 EC; (4) cara biologis:
menggunakan parasit Leefmansia bicolor tapi hasilnya belum memuaskan.
2. Kutu
Aspidiotus sp
Ciri:
kutu berperisai, jantan bersayap dengan ukuran 1,5-2 betina, jantan 0,5 mm.
Imago jantan berwarna merah/merah jambu dan betina berwarna kuning sampai
merah. Gejala: (1) bercak-bercak kuning pada permukaan bagian bawah daun; (2)
pada serangan berat daun berwarna merah keabu-abuan, tidak berkembang (tetap
kecil), tidak tegak, kemudian tajuknya terkulai dan mati; (3) akibat serangan
dalam waktu 2-5 tahun tidak mau berbuah. Pengendalian: menggunakan musuh alami
yaitu predator Cryptognatha nodiceps Marshall atau parasit Comperiella
unifasciata Ishii.
3. Parasa
lepida
Ciri:
kupu-kupu berentang sayap 32-38 mm berwarna kuning emas muda, masa pertumbuhan
± 375 hari. Gejala: memakan anak-anak daun sebelah bawah setempat-setempat,
tetapi tidak sampai tembus, meninggalkan bekas ketaman/gigitan yang melebar
sehingga tinggal urat-uratnya serta jaringan daun atas, ulat yang tua merusak
daun dari pinggir ke tengah sampai lidinya, serangan hebat tinggal lidinya dan
nampak gundul. Pengendalian: (1) menggunakan musuh alami parasit ulat Apanteles
parasae; (2) kepompong dapat menggunakn lalat parasit Chaetexorista javana; (3)
perogolan pohon yang terserang pada masa stadium ulat atau dengan mengumpulkan
kepompongnya; (4) penyemprotan dengan insektisida Dimecron 50 EC. Suprecide 10
atau menyuntik batang dengan Ambush 2 EC 2-3 cc/liter air pada stadium larva
konsentrasi.
4. Darna
sp
Ciri:
imago berbentuk kupu-kupu dengan rentang sayap 14-20 mm. Masa pertumbuhan 30-90
hari. Gejala: (1) pada musim kering, Meninggalkan bekas gigitan tidak teratur
pada daun tua, pelepah daun terbawah terkulai; (2) daun-daun yang rusak hebat
menjadi merah-sauh, kecuali pucuknya dan beberapa daun yang termuda; (3)
tandan-tandan buah dan daun sebelah bawah terkulai bagaikan layu terutama kalau
kering dan akhirnya bergantung kebawah di sisi batangnya. (4) buahnya gugur;
(5) daun-daun mudak duduk seperti biasa, tetapi kadang-kadang mulai merah sauh.
Hanya pucuknya dan daun-daun yang masih muda sekali yang utuh. Pengendalian:
(1) mengadakan pronggolan daun dan kemudian membakarnya; (2) menggunakan
parasit musuhnya yaitu parasit kepompong Chaetexorista javana, Ptycnomyaremota,
Musca conducens; atau tabuhan-tabuhan parasit Chrysis dan Syntomosphyrum; (3)
menyuntikkan pestisida Ambush 2 EC 2-3 cc/liter air atau penyemprotan pada
stadium larva. Atau insektisida Agrothion 50 EC dengan konsentrasi 0,2-0.4%,
Basudin 60 EC dengan konsentrasi 0,3%.
5. Ulat
Artona (Artona catoxantha)
Gejala:
(1) pada helaian daun terjadi kerusakan dengan adanya lubang seperti jendela
kecil; (2) jika serangan berat, tajuk tanaman kelapa nampak layu dan seperti
terbakar; (3) pada bagian bawah anak daun terlihat beberapa /bekas serangan
menyerupai tangga, dengan tulang daun arahnya melintang seperti anak tangga;
(4) stadium berbahaya adalah larva. Pengendalian: (1) jika setiap dua pelepah
terdapat 5 atau lebih stadium hidup maka perlu dilakukan penangkasan semua
daun, dan ditinggalkan hanya 3-4 lembar daun termuda; (2) menggunakan tawon
kemit (Apanteles artonae) yang merusak ulat atau Ptircnomya dan Cardusia
leefmansi; (3) menggunakan insektisida Ambush 2 EC 5 gram/hektar melalui
suntikan batang ataupun penyemprotan pada stadium larva.
C.
Hama Perusak Bunga
1. Ngengat
bunga kelapa (Batrachedra sp.)
Gejala:
lubang pada seludang bunga yang belum membuka, kemudian masuk ke dalam bunga
jantan dan betina. Dalam waktu singkat bunga jantan menjadi kehitam-hitaman,
bunga betina mengeluarkan getah dan akhirnya rontok. Pengendalian: (1) melabur
lubang dengan Basudin 60 EC atau disemprot dengan BHC dengan konsentrasi 0,1%;
(2) secara biologis dengan parasit Sylino sp.
2. Ulat
Tirathaba
Ciri:
ulat berwarna coklat kotor bergaris memanjang pada punggungnya, berukuran 22
mm. Masa keperidiannya 12-31 hari. Gejala: (1) bunga jantan berlubang-lubang
lebih banyak dari bunga betina; (2) buah yang baru kadang berlubang-lubang; (3)
banyak tahi ulat; (4) bunga-bunga jantan gugur dankotoran-kotoran lain melekat
menjadi satu bergumpal-gumpal kecil; (5) bongkol bunga penuh kotaoran dan
berbau busuk. Pengendalian: (1) mengumpulakn bunga-bunga yang terserang dan
membakarnya; (2) pemotongan mayang dan membakarnya; (3) membersihan pangkal
daun kelapa dari pupa dan larva; (4) menggunakan parasit hama yaitu Telenomus
tirathabae yang merusak telur 6%, Apanteles Tirathabae membinasakan ulat muda
18-40%, lalat parasit Eryciabasivulfa membunuh ulat 6-3%, parasit kepompong
Melachnineumon muciallae, Trichhospilus pupivora dan Anacryptus impulsator
masing-masing mempunyai daya bunuh 10%, 2 % dan 3,5 %. Sejenis cecopet yaitu
Exypnus pulchripenneis memakan ulat hidup-hidup; (5) menggunakan insektisida
Sevin 85 S dengan menyemprotkan pada bagian bunga dan bagian pangkal daun.
D.
Hama Perusak Buah
1. Tikus
pohon, Rattus rattus roque
Ciri:
hidup di tanah, pematang sawah, atau dalam rumah. Gejala: (1) buah kelapa
berlubang dekat tampuknya.; (2) lubang pada sabut dan tempurung sama besarnya.
Bentuk tidak rata kadang bulat, kadang melebar. Pengendalian: (1) memburu
tikus, memasang perangkap atau umpan-umpan beracun; (2) sanitasi mahkota daun
kelapa agar tidak menjadi sarang tikus.
2. Tupai/
bajing, Callosciurus notatus dan C. Nigrovitatus
Gejala:
(1) menggerek buah kelapa yang sudah agak tua di bagian ujung buah; (2) lubang
gerakan pada bagian tempurung bulat, tapi bagian serabut tidak rata; (3) isi
buah habis dimakan 2-3 hari; (4) seekor bajing merusak 1-2 buah dalam 1 bulan.
Pengendalian: sama dengan pemberantasan tikus.
F.
Hama Perusak Bibit
1. Anai-anai
randu, Coptotermes curvignatus.
Ciri:
imago berwarna coklat-hitam (laron, kalekatu, siraru). Gejala: (1) anai-anai
menyerang bibit dengan merusak sabut dari buah atau benih yang disemai.
Serangan terjadi pada lahan lateris yang bertekstur pasir berlempung yang
sarang; (2) bibit layu pucuknya kemudian mati. Pohon kelapa muda kadang-kadang
pula mati pucuknya kemudian binasa. Pada batang sering nampak lorong anai-anai
yang dibuat dari tanah, dari bawah menuju ke atas. Pengendalian:
(1)
pada waktu membuat persemaian dan membuka tanah, sisa-sisa tumbuhan
disingkirkan/ dibakar; (2) membuat persemaian dengan diberi lapisan pasir
sungai yang bersih dan tebal. Atau campur tanah dengan BHC 10% dengan dosis 65
kg/ha sebelum menyemai; (3) lakukan seedtreatment pada benih sebelum disemai
dengan Azodin.
2. Kumbang
bibit kelapa (Plesispa reichei Chap)
Ciri:
imago berbentuk kumbang dengan masa keperidian 90 hari. Gejala: (1) daun bibit
atau daun kelapa muda yang berumur 1-4 tahun mula-mula bergaris-garis yaitu
bekas dimakan kumbang. Garis-garis bersatu menjadi lebar. Tempat-tempat
tersebut membusuk atau kering; (2) daun kelapa dapat menjadi kering atau
sobek-sobek seperti terkena angin kencang; (3) serangan yang hebat dapat
mematikan bibit atau tanaman muda. Pengendalian: (1) pengambilan terhadap
setiap stadium dengan tangan; (2) disemprot dengan Diacin 60 EC dengan dosis
1,5-2 cc/liter air; (3) berikan Furadan 3 G di polybag 2-5 gram per bibit; (4)
cara biologis dengan parasit telur Oencyrtus corbetti dan Haeckliana brontispae
atau tabuhan parasit larva dan kepompong Tetrastichodes plesispae.
3. Belalang
bibit kelapa, Valanga transiens
Ciri:
imago berwarna merah-sauh bersemu kuning. Kakinya kekuning-kuningan. Pada kaki
belakang nampak 2 bercak hitam. Pada syap belakang, ayaitu yabng cerah tidak
ada warna merah pada pangkalnya. Panjang belalang jantan 37-50 mm, sedang
betina 55-60 mm. Gejala: (1) gigitan yang tidak beraturan pada daun kelapa bibit
yang berada dibawah 1 tahun dan yang belum terbelah; (2) untuk bibit yang
daunya telah membuka tidak terlalu menderita oleh serangan ini. Pengendalian:
dengan menyemprotkan basudin 60 EC atau Dimecron 50 EC.
07.56 by Muhammad Ali Alfi · 9
Senin, 22 April 2013
Kamis, 18 April 2013
Rabu, 17 April 2013
Selasa, 26 Juni 2012
LAPORAN AHIR PRODUKSI TANAMAN INDUSTRI
ACARA I
PERSIAPAN
PEMBUKAAN AREAL
TANAMAN
PERKEBUNAN
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Persiapan lahan merupakan
pekerjaan membuka lahan dan membersihkan dari vegetasi yang ada untuk diolah
dan disiapkan untuk penanaman. Didalam pembukaan lahan areal yang dibuka berupa
hutan primer, hutan sekunder. Oleh karena itu berdasarkan kriteria hutan yang
ada dan intensitas pekerjaan yang harus dikerjakan maka dapat digolongkan hutan
berat, hutan sedang, dan hutan ringan. (prasetyo,
dkk, 2012)
Lahan atau tanah merupakan
sumberdaya alam fisik yang mempunyai peranan penting dalam segala kehidupan
manusia, karena lahan atau tanah diperlukan manusia untuk tempat tinggal dan
hidup, melakukan kegiatan pertanian, peternakan, perikanan, kehutanan,
pertambangan dan sebagainya. Karena pentingnya peranan lahan atau tanah dalam
kehidupan manusia, maka ketersediaannya juga jadi terbatas. Keadaan ini
menyebabkan penggunaan tanah yang rangkap ( tumpang tindih ), misalnya tanah
sawah yang digunakan untuk perkebunan tebu, kolam ikan atau penggembalaan
ternak atau tanah hutan yang digunakan untuk perladangan atau pertanian tanah
kering. (Hasnudi dan Eniza saleh, 2004)
Pendayagunaan lahan atau tanah
memerlukan pengelolaan yang tepat dan sejauh mungkin mencegah dan mengurangi
kerusakan dan dapat menjamin kelestarian sumber daya alam tersebut untuk
kepentingan generasi yang akan datang. Pada sistem lingkungan tanah,
usaha-usaha yang perlu dikerjakan ialah rehabilitasi, pengawetan, perencanaan
dan pendayagunaan tanah yang optimum ( Soerianegara, 1977 ).
1.2.Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum
ini adalah agar tindakan/pekerjaan berikutnya mudah dilakukan karena lahan
telah bersih dari rumput, semak dan belukar.
BAB II
TINJAUAN
PUSTAKA
Areal perkebunan dapat dibangun didaerah bekas hutan, daerah bekas
alng-alang atau bekas perkebunan. Daerah-daerah tersebut memiliki topografi
berbeda-beda. Namun yang perlu diperhatikan dalam pembukaan areal perkebunan
adalah tetap terjaganya lapisan olah tanah (top soil). Selain itu harus
memperhatikan urutan-urutan pekarjaan, alat dan tehnik pelaksanaan.
Dalam pembukaan
areal perkebunan ini dilakukan beberapa
kegiatan yakni:
1.
Survei areal
Survei areal bertujuan untuk menentukan batas-batas areal yang akan dibuka
sekaligus menentukan rencana jaringan blak yang akan dibuat, sekaligus membuat
peta dengan cara menghubungkan titik satu dengan titik selanjutnya, baik untuk
pengukuran batas areal maupun pembuatan rencana blok.
2.
Desain perkebunan
Desain perkebunan bertujuan untuk menentukan
tataruang dalam kebun yang terbagi dalam afdeling. (Anonim, 2012). Apabila pengolahan tanah kering secara
lestari telah dikuasai masyarakat pedesaan, maka tidak akan ada kritis mata
pencaharian yang menyebabkan tanah menjadi kritis. Pengendalian teknologi
pengolahan tanah kering secara lestari adalah sederhana, tidak memerlukan
peralatan serba modern (canggih) dan pendidikan tinggi. Azas pengelolaan lahan
kering adalah menciptakan lingkungan perakaran yang dalam, mempertahankan
kemampuan tanah menyimpan air dan mengedarkan udara, tindakan terakhir adalah
memperkaya tanah dengan zat hara tersedia untuk akar. (Hasnudi dan Eniza saleh, 2004)
Untuk pelaksanaan pembukaan lahan dapat dilakukan
sebagai berikut:
- Pembagian hutan berdasarkan geografis
terdiri dari; hutan payo, hutan rawa, hutan pematang, dan hutan dataran
dan pegunungan.
- Pembagian hutan berdasarkan vegetasi
terdiri dari; hutan primer yaitu terdapat pohon dengan diameter >30cm
dengan kerapatan 25-100 pohon/ha dan diameter < 30 cm dengan kerapatan
2500 pohon/ha. Dan hutan sekunder yaitu kerapatan [ohon <2500 pohon/ha
dengan diameter 30 cm.
- Pembagian hutan berdasarkan
intensitas cahaya terdiri dari; hutan berat yaitu hutan primer dimana
jenis kayu keras masih utuh atau sebagian kecil yang telah diambil. Hutan
sedang, yaitu hutan primer yang telah diambil kayu-kayuan terutama yang
berdiameter >30 cm, dan hutan ringan yaitu vegetasi yang ada semak
belukar serta sisa-sisa kayu dan alang-alang dan umumnya merupakan hutan
bekas perladangan.
Pembukaan lahan untuk
perkebunan dibagi kedalam dua tempat yaitu, pembukaan untuk hutan dan pembukaan
untuk alang-alang yang akan diuraikan sebagai berikut:
- Pembukaan hutan
Pembukaan
hutan untuk perkebunan dapat dibagi menjadi 3 cara yaitu sistem mekanik,
manual, dan khemis yang semuanya memiliki kekurangan dan kelebihan.
- Pembukaan alang-alang
Pembukaan
alang-alang untuk dijadikan sebagai lahan perkebunan akan lebih mudah diolah
dari pada lahan hutan, namun cara pengerjaannya juga sama dengan areal hutan
yaitu secara manual. Mekanik dan khemis.
Dalam pembukaan lahan untuk
perkebunan perlu dilakukan pencegahan erosi terlebih pada lahan/areal yang
miring (berombak, bergelombang atu berbukit), maka usaha-usaha dalam mencegah
erosi/kerusakan lahan yaitu:
- Penanaman
secara kontur/garis tinggi
- Pembuatan
teras yaitu dapat dengan teras individu dan teras kolektif.
- Penanaman tanaman penutup tanah, sangat penting untuk pencegahan erosi.
BAB III
METODOLOGI
3.1 Bahan dan Alat
Bahan dan alat yang diperlukan untuk kegiatan ini
meliputi : semprotan punggung, ember, gelas ukur, tali raffia, herbisida (Round
Up, Clean Up, Sun Up,Sida Up).
3.2 Cara Kerja
- Membuat batas lahan dengan
menggunakan talia raffia untuk menentukan areal yang kan ditebas atau disemprot.
Pekerjaan penebasan semak belukar dilakukan 2 minggu sebelum penyemprotan.
Adapun luas lahan yang digunakan untuk setiap kelompok adalah 15 m x 15 m.
- Membuat larutan herbisida yang sesuai
dengan dosis anjuran yang tertera pada wadah yang ada.
- Adapun tahapan pembuatan larutan
herbisida yaitu sebagi berikut yang pertama memasukan cairan herbisida
sesuai takaran ke dalam alat semprot punggung selanjutnya memasukan air
sedikit demi sedikit sambil terus diaduk hingga larutan merata.
- Menyemprotkan larutan herbisida
tersebut dengan menggunakan nozel setinggi permukaan semak/belukar.
- Menyemprotkan larutan herbisida
tersebut secara merata kesemua bagian tanaman semak atau belukar yang da
pada arealyang telah ditentukan. Arah penyemprotan tidakboleh
berlawanandengan arah angin.
- Mengusahakan agar tekanan pompa tidakberlebihan.
- Menjaga Jarak atau lebar semburan
antara satu penyemprot dengan penyemprot lainnya agar dijga tidak yang
tertinggal.
- Memberi tanda pada saat pengisisan
ulang tangki sprayer, untuk mencegah agar ilalang tidak tersemprot atau
tersemprot ulang.
- Melakukan pengulangan penyemprotan
apabila turun hujan kurang dari 6 jam setelah penyemprotan.
- Melakukan penyemprotan kedua setelah
14-21 hari setelah penyemprotan pertama untuk lebih memastikan agar gulma
benar-benar mati.
- Membiarkan hasil penyemprotan sekitar
waktu 1-2 minggu untuk dapat mengerjakan kegiatan berikutnnya.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil pengamatan
|
Jenis Gulma
|
Pengamatan
|
|
Gulma berdaun lebar
|
2 hari sebelum
penyemprotan baru tampak gulma menguning.
|
|
Alang-alang
|
1 minggu setelah penyemprotan
baru terlihat efek dari penyemprotan
|
4.2 Pembahasan
Pembukaan lahan merupakan hal
yang sangat penting dalam memulai budidaya semua jenis komoditi daripada
pertanian tidak terkecuali pada tanaman pangan, horti dan tahunan (perkebunan)
semuanya harus dilakukan pengolahan lahan. Namun diantara ketiga golongan
tanaman tersebut mungkin berbeda dalam hal pengolahannya misalnya tanaman
perkebunan tidak memerlukan pengolahan secara sempurna, cukup dilakukan
pengolahan secara minimum bahkan tanpa olah tanah, atau pengolahan cukup
dilakukan pada lobang tanaman saja.
Dalam pembukaan lahan pada
praktikum ini yaitu pembukaan lahan untuk karet dan kopi kami terlebih dahulu
menentukan luas lahan yang akan digunakan setelah itu kami melakukan penebasan
pada kayu dan semak-semak sedangkan untuk kayu-kayu yang besar tidak seluruhnya
kami tebang, berhubung karena sebagian kayu dapat dipergunakan untuk membuat
naungan tanaman, terlebih untuk tanaman kopi yang memang memerlukan naungan
dalam pertumbuhannya, dan semua semak-semak dan hasil potongan kayu yang
lainnya kami kumpulkan di sisi dari petakan lahan kami, dalam praktikum ini
kami tidak melakukan pembakaran lahan, karena pembakaran tanah tidak baik
dilakukan yaitu dapat membunuh organisme lainnya dan dapat menimbulkan
kerusakan pada tanah.
Satu minggu setelah penebasan
kami melakukan penyemprotan dengan menggunakan herbisida Roun up dengan takaran 4-5 l/1000 l air, dengan bahan
aktif glifosat. Herbisida ini dalam
bentuk cair yang bersifat sistemik yaitu herbisida yang cara kerjanya, sebelum
bereaksi akan masuk kedalam jaringan tumbuhan terlebih dahulu. Tujuan
penyemprotan satu minggu setelah penebasan adalah tunas baru daru gulma sudah
mulai tumbuh.
Pada saat telah dilakukan
penyemprotan gulma belum memberikan reaksi masih dalam keadaan semula, hal ini
disebabkan oleh herbisida tersebut belum masuk kedalam jaringan tumbuhan
tersebut, reaksi/ efek dari penyemprotan tersebut baru mulai terlihat pada 2
hari setelah penyemprotan pada gulma berdaun lebar dan 1 minggu pada gulma
alang-alang. Perbedaan lamanya efek/ reaksi yang diberikan gulma terhadap
penyemprotan dipengaruhi oleh luasnya/panjangnya jaringan dari gulma tersebut.
Pada gulma berdaun lebar pada umumnya sistem perakarannya adalah dangkal
sehingga herbisida akan lebih cepat menjangkau seluruh jaringan dari pada gulma
tersebut, sedangkan pada gulma alang-alang memiliki sistem perakaran yang cukup
dalam, ditambah dengan rhizoma dari gulma yang dapat menyebar dengan luas,
sehingga bahan aktif dari herbisisda akan lebih lama untuk masuk kedalam
jaringan gulma tersebut.
Pada saat masuk kedalam
jaringan tumbuhan bahan aktif tidak langsung membunuh jaringan tanaman
tersebut, karena jika langsung membunuh jaringan tanaman yang dilaluinya maka bahan
aktif herbisisda tersebut tidak bisa masuk kejaringan yang labih dalam lagi,
oleh karena itu herbisida ini akan berreaksi setelah berada pada jaringan
tanaman, dan reaksi yang ditunjukkan akan sama pada bagian atas tumbuhan dan
bagian bawah tumbuhan akan sama, karena seluruh jaringan telah dimasuki oleh
bahan aktif herbisisda tersebut.
KESIMPULAN
Dari hasil praktikum dan pembahasan diatas maka
dapat kami simpulkan:
- Dalam pengolahan lahan kita perlu
memperhatikan kemiringan dari lahan yang akan kita gunakan karena dapat
mempengaruhi besarkecilnya erosi yang akan terjadi.
- Pada pembukaan lahan untuk tanaman
perkebunan biasanya pengolahan lahan tanah cukup dilakukan pada lobang
tanam saja.
- Herbisida Roun up memiliki bahan
aktif glifosat yang merupakan herbisida sistemik yang terlebih dahulu akan
masuk kedalm jaringan tanaman baru berreaksi.
- Lama dan cepatnya reaksi akan
ditentukan oleh panjangnya jaringan tumbuhan tersebut dan kandungan zat
yang dimiliki oleh tumbuhan tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Hasan. 2008. Budidaya tanaman coklat. http://groups.yahoo.com/group/agromania/. Download 21 Juni 2008.
Prasetyo, dkk. 2012. Penuntun praktikum Produksi Tanaman Industri. Laboratorium Agronomi UNIB, Bengkulu.
Prasetyo, dkk. 1997. Bahan Kuliah Produksi Tanaman Perkebunan I. Fakultas Pertanian UNIB, Bengkulu.
ACARA II
TEKNIK PEMBUATAN PENGAJIRAN TANAMAN
PERKEBUNAN
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Pengajiran merupakan suatu
langkah lanjutan dalam pembukaan lahan pada suatu areal yang akan
diusahakan/ditanami dengan tanaman perkebunaan. Dengan adanya pengajiran maka
akan diperoleh barisan tanaman lurus pada lahan-lahan datar atau agak miring
dan atau barisan kontur pada lahan yang bergelombang atau berbukit. Dalam pengajiran
terdapat banyak cara dan teknik berdasarkan jarak tanam tertentu.
Pengajiran dilakukan setelah
pembukaan tanah selesai. Setelah ditentukan kerapatan tanaman untuk satu hektar
dan ditentukan jarak tanamnya, pengajiran kemudian dilaksanakan.
Pengajiran sebaiknya dimuali
ditengah-tengah dan bagian kebun yang tertinggi, sehingga bila ada kesalahan
atau kurang tepatnya dalam pengukuran dihilangkan di tepi dan batas-batas
kebun, sungai dan jalan, dan dalam perngajiran diperlukan suatu tim yang
kompak, dan jumlahnya tidak melebihi 5 orangt setiap timnya.
1.2 Tujuan
Tujuan paraktikum ini adalah untuk memperoleh pertanaman
yang lurus/ teratur letaknya dari berbagai sudutbaik pada lahan datar maupun
agak miring.
BAB II
TINJAUAN
PUSTAKA
Areal perkebunan dapat dibangun didaerah bekas hutan, daerah bekas
alng-alang atau bekas perkebunan. Daerah-daerah tersebut memiliki topografi
berbeda-beda. Namun yang perlu diperhatikan dalam pembukaan areal perkebunan
adalah tetap terjaganya lapisan olah tanah (top soil). Selain itu harus
memperhatikan urutan-urutan pekarjaan, alat dan tehnik pelaksanaan.
Pengajiran merupakan suatu
langkah lanjutan dalam pembukaan lahan pada suatu areal yang akan
diusahakan/ditanami dengan tanaman perkebunaan. Dengan adanya pengajiran maka
akan diperoleh barisan tanaman lurus pada lahan-lahan datar atau agak miring
dan atau barisan kontur pada lahan yang bergelombang atau berbukit. Dalam
pengajiran terdapat banyak cara dan teknik berdasarkan jarak tanam tertentu.
Susunan penanaman dan jarak
tanam akan menentukan kerapatan tanaman. Kerapatan tanaman merupakan salah satu
factor yang mempengaruhi tingkat produksi tanaman perkebunan. Jarak tanam harus
disesuaikan dengan keadaan topografi areal yang akan kita tanami. Susunan
penanaman dapat berbentuk bujur sangkar, jajaran genjang atau segitiga sama
sisi. Pengajiran perlu dilakukan dalam penanaman tanaman perkebunan, dalam
pengajiran ajir induk tidak boleh dicabut sebelum pembuatan lubang dan
pengajiran kedua selesai. Jarak ajir induk merupakan kelipatan jarak tanamnya
dan disesuaikan dengan ukuran yang telah dibuat. Ajir induk sangat penting
untuk meluruskan kembali setelah lubang selesai dibuat.
Pengajiran sebaiknya dimulai
ditengah-tengah dan dibagian kebun yang tertinggi, sehingga bila ada kesalahan
atau kurang tepat dalam pengukuran dihilangkan di tepi batas-batas kebun,
sungai dan jalan. Tujuan dari pengajiran adalah untuk memperoleh pertanaman
yang lurus/teratur letaknya dari berbagai sudut baik pada lahan datar maupun
lahan agak miring. Pengajiran dilakukan setelah pembukaan lahan selesai, dan
setelah ditentukan jarak tanamnya. Pengajiran kemudian dilaksanakan.
Barisan-barisan karet yang akan terbentuk ada dua macam yaitu:
- Barisan lurus, yaitu pada lahan-lahan
datar atau agak miring.
- Barisan kontur, yaitu pada lahan yang bergelombang atau
berbukit. (Prasetyo dkk, 1997)
BAB III
METODOLOGI
3.1.Bahan dan Alat
Bahan dan alat yang digunakan
dalam praktilkum ini antaralain meteran, kompas, teropong BTM/theodolit, tali
rapis, tali pancang, tongkat ajir induk, tongkat ajir biasa dan cat warna
merah.
3.2.Cara Kerja
Cara pengajiran untuk tanaman
perkebunan kopi dengan menggunkanan system jarak tanam pagar dengan jarak 7m x 2,5
m.
1.Pembuatan ajir induk (dengan menggunakan BTM/
theodolit)
- Menentukan
arah barat-timur dan utara –selatan dan keduanya tegak lurus berpotongan.
- Menentukan
titik A untuk awal mulai pekerjaan, selanjutnya diukur AC=CD=35M pada arah
BT, dan AG = GH=21M menurut arah US.
- Membuat
garis a dan b tegak lurus pada BT di C dan D demikian pula p dan q tegak
lurus pada US Di G dan H.
- Garis a memotong p dan q di F dan I, sedangkan b di E dan J.
- Secara sama-sama dibuat petak –petak seperti ACFG, CDEF, GHIF, dan IFEJ bagi seluruh areal yang ditangani.
- Pada
titik A, C, D, E, F, G, H, I, dan J diberi ajir yang dise3but dengan sjir
induk.
2. Pembuatan petak sesuai dengan jarak tanam,
contoh ACFG
·
menurut
arah GF diukur jarak 7m dengan titik F1, F2, F3, F4, demikian juga AC dengan
titik A1, A2, A3, A4.
·
Mengukur
jarak 3 m menurut arah CF dengan titik C1, C2, C3, C4 dst. Demikian juga AG
dengan titik G1, G2, G3, G4 dst.
·
Menghubungkan
titik-titik A1 dan F1, A2 dan F2, A3 dan F3, A4 dan F4 dengan menggunakan tali
rapia.
·
Menghubungkan
dengan tali titik-titikG1 dan C1, talinya ini akan memotong tali A1F1, A2F2,
A3F3, A4F4 dan pada titik potongan ini ditancapkan sebuah ajir.
BAB IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Dari hasil praktikum diketahui
bahwa dalam areal perkebunan yang akan ditanami tanaman perkebunan maka perlu
dilakukan pengajiran. Pengajiran merupakan suatu langkah lanjutan dalam
pembukaan lahan pada suatu areal yang akan diusahakan atau ditanami dengan
tanaman perkebunaan. Dengan adanya pengajiran maka akan diperoleh barisan
tanaman lurus pada lahan-lahan datar atau agak miring dan atau barisan kontur
pada lahan yang bergelombang atau berbukit. Dalam pengajiran terdapat banyak
cara dan teknik berdasarkan jarak tanam tertentu.
Pengajiran (lining) dilakukan
setelah selesai pembukaan lahan, sesuai jarak tanaman yang telah ditentukan.
Tujuan dari praktikum ini dilakukan adalah untuk memperoleh barisan tanaman
yang teratur, lurus dari berbagai sudut baik pada lahan datar atau miring.
Bentuk pengajiran yang ada seperti segi empat, empat persegi panjang, ssegi
tiga sama sisi dan pagar tetapi yang dilakukan pada praktikum adalah bentuk segi empat.
Pengajiran yang dilakukan pada
praktikum ini adalah pada lahan miring, tetapi dibuat teras-teras. Susunan
penanaman dan jarak tanam akan menentukan kerapatan tanaman. Kerapatan tanaman
merupakan salah satu factor yang mempengaruhi tingkat produksi tanaman
perkebunan. Jarak tanam harus disesuaikan dengan keadaan topografi areal yang
akan kita tanami. Susunan penanaman dapat berbentuk bujur sangkar, jajaran
genjang atau segitiga sama sisi.
Pengajiran perlu dilakukan
dalam penanaman tanaman perkebunan, dalam pengajiran ajir induk tidak boleh
dicabut sebelum pembuatan lubang dan pengajiran kedua selesai. Jarak ajir induk
merupakan kelipatan jarak tanamnya dan disesuaikan dengan ukuran yang telah
dibuat. Ajir induk sangat penting untuk meluruskan kembali setelah lubang
selesai dibuat.Pengajiran sebaiknya dimulai ditengah-tengah dan dibagian kebun
yang tertinggi, sehingga bila ada kesalahan atau kurang tepat dalam pengukuran
dihilangkan di tepi batas-batas kebun, sungai dan jalan. Tujuan dari pengajiran
adalah untuk memperoleh pertanaman yang lurus/teratur letaknya dari berbagai
sudut baik pada lahan datar maupun lahan agak miring.
KESIMPULAN
Dari hasil praktikum dan
pembahasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa pengajiran perlu dilakukan untuk
areal tanaman perkebunan. Pengajiran bertujuan untuk memperoleh pertanaman yang
lurus/teratur letaknya dari berbagai sudut baik pada lahan datar maupun lahan
agak miring, dan pengajiran sebaiknya dimulai pada bagian tengah sehingga jika
terjadi kesalahan akan merata dan mudah untuk mencari bagian mana yang salah.
DAFTAR PUSTAKA
Danarti. 2007. Budidaya kopi. Penebar Swadaya,
Jakarta.
Hasan. 2008. Budidaya tanaman coklat. http://groups.yahoo.com/group/agromania/. Download 21 Juni 2008.
Prasetyo, dkk. 2012. Penuntun praktikum Produksi Tanaman Industri. Laboratorium Agronomi UNIB, Bengkulu.
Prasetyo, dkk. 1997. Bahan Kuliah Produksi Tanaman Perkebunan I. Fakultas Pertanian UNIB, Bengkulu.
ACARA III
PEMBUATAN LUBANG
TANAM DAN PERSIAPAN TANAM
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Lubang tanam merupakan salah satu syarat yang perlu dilakukan dalam usaha
penanaman atau budidaya tanaman perkebunan yang baik. Hal sama-sama bias
dimengerti sebab tanaman tahunan biasanya memiliki perakaran yang sukup dalam
dan cukup luas.
Pembuatan lubang tanam dapat dipandang salah satu bentuk pengelolaan tanah
dalam skala kecil. Lubang tanam sebaiknya dibuat 2-6 bulan sebelum saat tanam tiba.
Selama menunggu saat tanam, tanah galian akan mengalami sifat-sifat fisik dan
kimia tanah, sebagai hasil adanya pengaruh iklim. Dalam pembuatan lobang tanam
hendaknya mempunyai ukuran yang optimal yang disesuaikan dengan sifat tanah dan
jenis bibrt yang akan diatanam. Pada lahan yang gtembur dan subur ukuran lobang
tanam digunakan 60 x 60 x 60 cm, sedangkan lahan yang berat dan atau lahan
kurang subur lubang tanam dapat digunakan 80 x 80 x 100 cm atau 100 x 100 x 100
cm. lubang tanam dibuat sedemikian rupa sehingga latak ajir tepat di tengah
–tengah lubang tanam. Sewaktu menggali lubang ada yang berpendapat bahwa tanah
galian bagian bawah dan bagian atas dipisahkan dan ada juga yang berpendapat
tanah galian tersebut tidak perlu dipisahkan.
Lubang tanam selain memberikan manfaat tumbuh, berkembangnya perakaran
tanaman pokok, juga mempermudahkan perawatan tanaman serta menjaga konservasi
lahan, karena pembuatan lubang tanam biasanya disesuiakan dengan kontur lahan
dan jarak tanam (Anonim, 2012).
1.2. Tujuan Praktikum
Untuk memberikan pengertian
secara langsung pada praktikan dilapangan sehingga mampu mengindentifikasi dan
memecahkan masalah dan menerapkan secara praktis dan benar.
BAB II
TINJAUAN
PUSTAKA
Bentuk dan ukuran lobang tanam perlu diketahui oleh
setiap petani.dalam usaha tani, lubang tanam termasuk bagian yang menentukan
hidup/tidaknya bibit setelah tanam. Pembuatan lubang tanam yang dilakukan
secara sembarangan akan memperbesar resiko kematian bibit, karena tanaman
perkebunan termasuk tanaman yang sensitive dan peka terhadap perlakuan ceroboh.
Lubang tanam untuk bibit asal perkembangbiakan
vegetatif (stek) memiliki ukuran yang berbeda dengan lubang tanam untuk
bibit yang berasal dari perkembangbiakan generatif (biji) (Sarpian, 2003).
Pembuatan lobang tanam dapat dilakukan satu
minggu sebelum penanaman. Pembuatan lobang tanam lebih dari satu minggu akan
memungkin tertimbunnya kembali sebagian lubang tanam yang sudah digali dengan
tanah yang berada disekitar galian lubang itu sendiri. Hal ini dapat mengurangi
produktivitas tenaga kerja penanaman bibit, karena tenaga kerja harus mengulang
kembali penggalian lubang yang tertimbun.
Begitu juga sebaliknya, penggalian lubang tanam yang terlalu cepat atau
kurang dari satu minggu juga tidak dianjurkan karena semakin kecil persiapan
untuk mengontrol kebenaran ukuran dan posisi lubang. Pembuatan lubang tanam
berbeda untuk tanah mineral dengan tanah gambut (Fauzi dkk., 1997).
Lubang tanam merupakan salah satu syarat yang perlu dilakukan dalam usaha
penanaman atau budidaya tanaman perkebunan yang baik. Hal sama-sama bias
dimengerti sebab tanaman tahunan biasanya memiliki perakaran yang sukup dalam
dan cukup luas.
Pembuatan lubang tanam pada tanah mineral digali secara manual dengan
menggunakan cangkul, dimana anak pancang digunakan sebagai titik tengah dari
lubang tersebut. Pembuatan lubang tanam pada tanh mineral, baik diareal datar
pada teras individu maupun pada teras bersambung, hanya dibuat satu lubang
tanam (tunggal). Tanah galian lubang bagian atas (top soil) diletakan disebelah
anak pancang tanaman, sedangkan tanah galian lubang bagian bawah (sub soil)
diletakan disebelah kiri anak pancang. Lubang tanam selain memberikan manfaat
tumbuh, berkembangnya perakaran tanaman pokok, juga mempermudahkan perawatan
tanaman serta menjaga konservasi lahan, karena pembuatan lubang tanam biasanya
disesuiakan dengan kontur lahan dan jarak tanam.
BAB III
METODOLOGI
3.1. Bahan dan Alat
Alat yang digunakan yaitu :
cangkul, gancu, sekop, meteran, timbangan. Sedangkan bahannya
adalah pupuk kandang.
3.2. Cara kerja/
pelaksanaan praktikum
1. Survey lokasi, dalam hal ini mengamati
keadaan lahan yang ada contohnya:
· Vegetasi tanaman yang ada pada lahan
tersebut?
· Bentuk kontur bagai mana?
2. Menentukan tempat- tempat lahan yang akan
dibuat lobang tanam dan sesuai jarak
tanamnya.
3. Membersihkan lahan dan sekitarnya yang
akan dibuat lobang tanam.
4. Menentukan ukuran lobang tanam 40 cm x 40
cm x 40 cm.
5. Memisahkan hasil galian antara lapisan
tanah atas dan lapisan tanah bawah, dimana tanah lapisan atas diletakkan
disebelah bkanan lobang dan disebelah kiri tanah lapisan bawah.
6. Membiarkan lobang tanam kena cahaya
matahari
7. Mencampur lapisan tanah lapisan bawah
dengan pupuk kandang sebanyak 10 kg dan lapisan top soil dengan pupuk kandang 5
kg diaduk sampai merata.
8. Kemudian campuran pupuk kandang dan tanah top soil dimasukkan
kebagian bawah lubang dan tanah sup soil diatas dan dibiarka 2 minggu
9. Setelah 2 minggu lobang tanam digali lagi
sebesar tanaman, kemudian masukkan bahan tanam kopi kemudian ditutup kembali
dengan tanah sambil ditekan agar posisi kopi kuat. Setelah
selesai penanaman dilakukan penyiraman dengan air secukupnya.
BAB IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Percobaan ini
dilakukan Lahan percobaan Laboratorium Agronomi UNIB, Dari hasil percobaan yang telah
dilakukan diketahui bahwa pembuatan lobang tanam merupakan salah satu syarat yang perlu
dilakukan dalam usaha penanaman atau budidaya tanaman perkebunan yang baik. Hal disebabkan tanaman tahunan biasanya memiliki perakaran
yang cukup dalam dan cukup luas. Pembuatan
lobang tanam dalam percobaan ini dilakukan dua
minggu sebelum penanaman. Pembuatan lobang tanam lebih dari dua minggu
akan memungkin tertimbunnya kembali sebagian lubang tanam yang sudah digali
dengan tanah yang berada disekitar galian lubang itu sendiri. Hal ini dapat
mengurangi produktivitas tenaga kerja penanaman bibit, karena tenaga kerja
harus mengulang kembali penggalian lubang yang tertimbun.
Bentuk dan
ukuran lobang tanam perlu diketahui oleh setiap petani.dalam usaha tani, lubang
tanam termasuk bagian yang menentukan hidup/tidaknya bibit setelah tanam.
Pembuatan lubang tanam yang dilakukan secara sembarangan akan memperbesar
resiko kematian bibit, karena tanaman perkebunan termasuk tanaman yang
sensitive dan peka terhadap perlakuan ceroboh. Lubang tanam untuk bibit asal
perkembangbiakan vegetatif (stek)
memiliki ukuran yang berbeda dengan lubang tanam untuk bibit yang berasal dari
perkembangbiakan generatif (biji) .
Pada percobaan ini tanah galian
lubang bagian atas (top soil) sekitar 20 cm dari permukaan tanah dipisahkan
dengan tanah galian lubang bagian bawah (sub soil). Hal ini disebabkan karena
tanah bagian atas atau top soil lebih subur dibanding dengan tanah bagian bawah
(sub soil).
Pembuatan lubang tanam juga merupakan salah satu bentuk pengelolaan tanah dalam
skala kecil. Pembuatan lubang tanam sebelum penanaman tanah galian akan
mengalami sifat-sifat fisik dan kimia tanah, sebagai hasil adanya pengaruh
iklim manfaat lain dari pembuatan lubang tanam ini adalah bagian lubang
tersebut akan terhindar dari organisme pengganggu karena dampak dari sinar
matahari.
Dalam pembuatan lobang tanam hendaknya mempunyai ukuran
yang optimal yang disesuaikan dengan sifat tanah dan jenis bibrt yang akan
diatanam. Pada praktikum yang telah dilaksanakan ukuran lobang tanam yang
dibuat adalah 40 cm x 40 cm x 40 cm, dengan kondisi areal agak curam tetapi
sebelumnya telah dibuat teras-teras.
Persiapan tanam yang dilakukan dimana pupuk kandang dan
tanah sub soil dicampurkan, kemudian dimasukkan kebagian bawah lubang dan tanah
top soil diatas dan dibiarkan dua minggu. Penanaman dilakukan dua minggu lobang
setelah pembuatn lobang, lobang tanam digali lagi sebesar perakaran tanaman
kemudian memasukkan bahan tanam kopi kemudian ditutup kembali dengan tanah
sambil ditekan agar posisi kopi kuat. Setelah selesai penanaman dilakukan
penyiraman dengan air secukupnya. Tipe kopi yang ditanam adalah genotip K4.
Pertumbuhan kopi pada pegamatan ke tiga hanya mengalami pertumbuhan sedikit, hal
ini disebabkan karena pada saat tersebut terjadi musim kemarau. Hal ini
menyebabkan terhambatnya pertumbuhan.
Lubang tanam selain memberikan
manfaat tumbuh, berkembangnya perakaran tanaman pokok, juga mempermudahkan
perawatan tanaman serta menjaga konservasi lahan, karena pembuatan lubang tanam
biasanya disesuaikan dengan kontur lahan dan jarak tanam.
KESIMPULAN
Dari hasil percobaan dan
pembahasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa pembuatan lobang tanam merupakan salah satu syarat yang perlu
dilakukan dalam usaha penanaman atau budidaya tanaman perkebunan yang baik.
Tanah top soil dipisahkan dengan tanah sub soil, karena tanah top soil lebih
subur dibanding dengan tanah sub soil. Lubang tanam selain memberikan manfaat
tumbuh, berkembangnya perakaran tanaman pokok, juga mempermudahkan perawatan
tanaman serta menjaga konservasi lahan.
DAFTAR PUSTAKA
Danarti. 2012. Budidaya kopi. Penebar Swadaya,
Jakarta.
Fauzi dkk., 1997. Pengolahan lahan perkebunan. http://docs.yahoo.com/info/terms/.
Download 21 Juni 2008.
Prasetyo, dkk. 2012. Penuntun praktikum Budidaya Tanaman Tahunan. Laboratorium Agronomi UNIB, Bengkulu.
Prasetyo, dkk. 1997. Bahan Kuliah Produksi Tanaman Perkebunan I. Fakultas Pertanian UNIB, Bengkulu.
ACARA VIII
PENGARUH MEDIA EKSTRAKSI TERHADAP PERKECAMBAHAN KAKAO (Theobroa
cacao)
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 latar belakang
Kakao (Theobroma cacao, L) merupakan salah komoditas perkebunan yang sesuai untuk perkebunan rakyat, karena tanaman ini dapat berbunga dan berbuah sepanjang tahun, sehingga dapat menjadi sumber pendapatan harian atau mingguan bagi pekebun. Tanaman kakao berasal dari daerah hutan hujan tropis di Amerika Selatan. Di daerah asalnya, kakao merupakan tanaman kecil di bagian bawah hutan hujan tropis dan tumbuh terlindung pohon-pohon yang besar. Oleh karena itu dalam budidayanya, tanaman kakao memerlukan naungan. Sebagai daerah tropis, Indonesia yang terletak antara 6 LU – 11 LS merupakan daerah yang sesuai untuk tanaman kakao. Namun setiap jenis tanaman mempunyai kesesuian lahan dengan kondisi tanah dan iklim tertentu, sehingga tidak semua tempat sesuai untuk tanaman kakao, dan untuk pengembangan tanaman kakao hendaknya tetap mempertimbangkan kesesuaian lahannya. Sebagai tananam yang dalam budidayanya memerlukan naungan, maka walaupun telah diperoleh lahan yang sesuai, sebelum penanaman kakao tetap diperlukan persiapan naungan. Tanpa persiapan naungan yang baik, pengembangan tanaman kakao akan sulit diharapkan keberhasilannya. Oleh karena itu persiapan lahan dan naungan, serta penggunaan tanaman yang bernilai ekonomis sebagai penaung merupakan hal penting yang perlu diperhatikan dalam budidaya kakao.
Perbanyakan tanaman secara
generatif adalah perbanyakan tanaman dengan mengawinkan dua individu tanaman
atau bagian dari individu yang terpisah sehingga menghasilkan individu baru
yang memiliki campuran sifat kedua tanaman induknya. Perbanyakan generatif
biasa dilakukan dengan spora atau benih.
Keuntungan yang diperoleh dari
perbanyakan generatif adalah sebagai berikut:
1. Merupakan cara perbanyakan tanaman paling
mudah, murah, serta tidak memerlukan tenaga ahli.
2. Biasanya menghasilkan tanaman yang lebih
sehat, produktif dan daya hidupnya lebih lama.
3. Memungkinkan adanya perbaikan-perbaikan
lewat persilangan baru.
4.
Benihnya mudah disimpan dan
dikirim ketempat lain.
5. Menghasilkan tanaman yang berakar tunggang
dalam sehingga tahan terhadap bahaya kekeringan, kebanjiran, dan tahan rebah.
Adanya keuntungan-keuntungan
tersebut diatas maka beberapa jenis komoditi sesuai maksud dan tujuannya,
perbanyakan tanaman secara generatif ini masih tetap dipertahankan. Sekalipun
demikian keberhasilan perbanyakan generatif sangatlah dipengaruhi oleh mutu/
kualitas benih.
1.2 Tujuan
Untuk mempelajari pengaruh media ekstraksi
terhadap perkecambahan benih coklat.
1.3 Manfaat yang diharapkan
Setelah melakukan kegiatan
praktikum ini diharapkan kami mengetahui cara mengekstraksi, mengatahui jenis
ekstrak apa saja yang dapat digunakan untuk menghilangkan pulp pada benih
coklat dan ekstraksi yang tepat untuk benih coklat.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Tanaman Kakao merupakan
tanaman perkebunaan berprospek menjanjikan. Tetapi jika faktor tanah yang
semakin keras dan miskin unsur hara terutama unsur hara mikro dan hormon alami,
faktor iklim dan cuaca, faktor hama dan penyakit tanaman, serta faktor pemeliharaan
lainnya tidak diperhatikan maka tingkat produksi dan kualitas akan rendah. (Abror Yudi Prabowo, 2012)
Kondisi agroklimat, seperti
ketinggian tempat, curah hujan, kondisi tanah, sifat kimia tanah, ketersediaan
unsur hara tanah, dan toksitas sangat mempengaruhi pertumbuhan suatu tanaman.
Menurut Direktorat Jenderal Perkebunan (Dirjenbun) dan Pusat Penelitian Kopi
& Kakao Jember, tingkat kesesuaian lahan untuk tanaman kakao digolongkan
menjadi sesuai (S1), cukup sesuai (S2), agak sesuai (S3) dan tidak sesuai (N).
Dengan demikian dapat diketahui tingkat kesesuaian penanaman kakao di suatu
wilayah. Penilian tersebut didasarkan atas kondisi agroklimat, sifat fisik dan
kimia tanah. Bibit cokelat bisa diperoleh dengan cara generatif, yaitu dari
hasil penyemaian biji atau dari hasil perbanyakan vegetatif (setek dan
okulasi). Bibit cokelat yang baik untuk ditanam di lapangan adalah yang berumur
4 – 5 bulan, tinggi 50 – 60 cm, berdaun 20 – 45 helai dengan sedikitnya 4 helai
daun tua, diameter batang 8 mm, dan sehat. Banyaknya bibit cokelat yang
dibutuhkan adalah tergantung kepada jarak tanam yang akan digunakan. Pemilihan
jarak tanam yang optimum bergantung kepada besarnya pohon, jenis tanah, dan
iklim areal yang hendak ditanami. (Anonim, 2012)
Ada beberapa factor yang mempengaruhi kualitas
benih yaitu:
a.
Kemurnian benih
Benih yang murni (tidak
tercampur dengan varietas lain) dan homogen (tidak tercampur dengan kotoran)
akan dapat memberikan kepastian jenis tanaman untuk yang dihasilkan dari benih
tersebut. Oleh karena itu secara umum benih dapat digolongkan menjadi dua,
yaitu:
1. Benih murni yaitu benih dari suatu
varietas atau klon atau galur tertentu dan tidak tercampur dengan benih/
varietas/ galur yang lain yang dimana tidak diketahui jenis dan sifatnmya.
2. Benih homogen yaitu benih yang secara
fisik – mekanik tidak tercampur dengan bahan-bahan yang tidak merusak, misalnya
batu kerikil, biutir-butir tanah, biji-biji hampa atau rusak, dan biji-biji
gulma.
b.
Daya kecambah dan kecepatan kecambah.
Daya kecambah atau tenaga tumbuh adalah daya untuk
berkecambah yang dinyatakan dalam persen(%). Dan ini menyatakan viabilitas dari
penelitian tersebut. Waktu yang diperlukan untuk berkecambah ini ternyata
berbeda-beda untuk setiap jenis tanaman benih kopi akan berkecambah setelah 4-6
minggu berada dipersemaian (yahmadi, 1980), sedangkan benih coklat dalam waktu
5-6 hari sudah berkecambah (situmorang, 1980).
Kecepatan berkecambah adalah banyaknya biji yang
berkecambah dalam jangka waktu yang lebih pendek daripada daya kecambah, yang
dinyatakan dalam persen. Jadi
pada dasranya kecepatan berkecambah ini menyatakan berapa persen biji yang
dapat berkecambah dengan cepat dan ini menyatakan vigor dari benih tersebut.
Untuk benih kopi biasanya kecepatan berkecambah dinyatakan dalam waktu 10-15 hari,
sedangkan coklat antara 2-3 hari.
c.
Kandungan air
Kandungan air yang terlalu
banyak akan mengakibatkan benih menjadi cepat mati karena kekurangan oksigen
atau o2, bercendawan atau rusak karena serangan hama terutama jika
rusak lembaganya. Sebaliknya jika benih kekurangan air maka ia akan sulit untuk
berkecambah. Pada dasarnya air diperlukan untuk melunakkan kulit biji, dengan
lunaknya kulit biji maka air akan berpenetrasi kedalam biji dan selanjutnya
merangsang metabolisme senyawa-senyawa organic. Oleh karena itu kadar air biji
yang cukup tinggi justru akan memacu metabolisme biji sehingga biji tersebut
akan menjadi tidak tahan disimpan. Oleh karena itu pulalah kadar air biji
sangat menentukan kualitas benih suatu tanaman.
Sehubungan dengan adanya
beberapa factor tersebut diatas perlu diupayakan adanya perlakuan-perlakuan
tertentu sebelum biji/ benh dikecambahkan. Sehingga akan diperoleh benih dengan
daya kecambah yang cukup tinggi dan berkualitas baik pula.
Biji/
benih kopi dan coklat dibungkusi oleh daging biji atau leandir (pulp) yang
disenangi oleh semut atau serangga. Untuk menjaga mutu benih maka sebelum
dikecambahkan hendaknya pulp ini dihilangkan lebih dahulu dengan cara diaduk
menggunakan media abu, diremas-remas dengan bantuan kain atau lap, kemudian
dicuci dengan air. Yang penting adalah harus dijaga agar kulit tanduk biji
tidak rusak karena perlakuan tersebut. Setelah digosok dengan abu, biji
tersebut kemudian dicuci dengan air sampai bersih. Biji/benih coklat tidak
mempunyai masa dorman, maka haru langsung dikecambahkan (situmorang, 1980).
Lambatnya penurunan daya
kecambah (viabilitas) benih di dalam buah sering dihubungkan dengan adanya zat
penghambat perkecambahan benih(raharjo, 1981). Hal yang sama juga dikemukan
oleh chin (1980), bahwa lambatnya penurunnya daya kecambah benih coklat selama
masih dalam buah disebabkan oleh derajat keasaman dan kandungan gula yang
tinggi pada pulp. Sehingga secara osmotic mengahalangi perkecambahan benih.
Oleh sebab itu dalam mengecambahkan benih perlu dilakukan ekstraksi untuk
mempercepat perkecambahan. Adapun media ekstraksi yang digunakan dapat berupa
serbuk gergaji, abu dapur, sekam dan lan-lain. (Prasetyo dkk, 2012)
Perkecambahan dilakukan dalam
bedengan yang berukuran lebar 0.8 – 1 meter dan panjangnya menurut kebutuhan.
Dibuat pada tanah gembur yang diatasnya dilapisi pasir setinggi 15 cm. Bedengan
diberi atap setinggi ± 1,5 meter di sebelah Timur dan ± 1.2 meter di sebelah
Barat. Cara meletakkan biji dengan radicle(tempat keluarnya akar) di sebelah
bawah karena biji kakao bersifat epigeal Biji disusun dengan jarak antar alur ±
3 cm dan antar biji ± 1 cm. Penyiraman dilakukan pagi dan sore. Pemindahan
kecambah ke dalam keranjang pembibitan Saat memindahkan ke keranjang / polybag
dilakukan bila keping biji mulai tersembul ke atas (biji mulai berkecambah
setelah 4-5 hr dikecambahkan dan diharapkan pada hari ke 12 semua biji
sudah berkecambah ).
Pemindahan jangan terlambat
karena menyebabkan terputusnya akar tunggang.
Ukuran keranjang / polybag diameter 15 – 20 cm dan tinggi 30 – 35 cm.
Polybag diisi dengan tanah kompos dan pasir (1 : 1), polybag berisi kecambah di susun teratur di atas tanah yang sedikit ditinggikan. Penyiraman dilakukan pagi dan sore , pemupukan ZA 2 gram dilakukan 2 mg setelah bibit dipindah ke polybag. Pemindahan bibit ke kebun setelah berumur 4-6 bulan. Kakao lindak bisa lebih awal karena pertumbuhannya lebih cepat dari pada kakao mulia. Kriteria yang umum digunakan adalah bibit yang sedikitnya mempunyai 12 daun yang sudah tua, tinggi bibit > 50 cm dan diameter batang ± 1,5 cm. Sebelum bibit dipindah, dilakukan hardening (penarangan ) yaitu melatih bibit untuk menyesuaikan dengan keadaan lingkungan di kebun.caranya dengan membuka atap bedengan secara bertahap sebulan sebelum dipindah (tiap minggu 25 %). Dihindari pemindahan bibir berumur > 8 bulan karena sebagian besar akarnya telah menembus polybag, pemindahan dilakukan musim hujan karena biasanya pertumbuhan awalnya mengalami stagnasi.(Hasan, 2012)
Polybag diisi dengan tanah kompos dan pasir (1 : 1), polybag berisi kecambah di susun teratur di atas tanah yang sedikit ditinggikan. Penyiraman dilakukan pagi dan sore , pemupukan ZA 2 gram dilakukan 2 mg setelah bibit dipindah ke polybag. Pemindahan bibit ke kebun setelah berumur 4-6 bulan. Kakao lindak bisa lebih awal karena pertumbuhannya lebih cepat dari pada kakao mulia. Kriteria yang umum digunakan adalah bibit yang sedikitnya mempunyai 12 daun yang sudah tua, tinggi bibit > 50 cm dan diameter batang ± 1,5 cm. Sebelum bibit dipindah, dilakukan hardening (penarangan ) yaitu melatih bibit untuk menyesuaikan dengan keadaan lingkungan di kebun.caranya dengan membuka atap bedengan secara bertahap sebulan sebelum dipindah (tiap minggu 25 %). Dihindari pemindahan bibir berumur > 8 bulan karena sebagian besar akarnya telah menembus polybag, pemindahan dilakukan musim hujan karena biasanya pertumbuhan awalnya mengalami stagnasi.(Hasan, 2012)
BAB III
METODOLOGI
3.1
Waktu dan tempat praktikum
Praktikum ini dilaksanakan
pada bulan maret hingga bulan juni lahan sekitar laboratorium agronomi fakultas
pertanian universitas bengkulu.
3.2
Bahan dan Alat
Bahan dan alat yang digunakan adalah buah coklat, abu
sekam padi/ jerami padi, abu alang-alang, abu dapur, tanah (topsoil), pupuk
kandang, polibag, dithane M-45, pemukul kayu, naungan, pisau, pasir dan bak
tempat perkecambahan.
3.3
Metode pelaksanaan
Percobaan/ praktikum ini
disusun secara faktorial dengan pola dasar Rancangan Acak Lengkap (RAL), yang masing-masing
diulang 3 kali dan menggunakan dua factor:
Factor I: macam abu (A), terdiri dari
A0 = tanpa ekstraksi
A1= abu alang-alang
A2= abu dapur
A3= abu sekam
Factor II: letak biji
Kel I = ujung
Kel II= tengah
Kel III= pangkal
Dari kedua factor tersebut
diatas maka diperoleh 12 kombinasi perlakuan dan jumlah sampel untuk setiap
kombinasi perlakuan adalah 5 polibag dan masing-masing diulang sebanyak 4 kali
sehingga jumnlah polibag keseluruhan adalah 240 polibag.
3.4
cara kerja
1.
Menyiapkan
bak perkecambahan dari plastik dengan ukuran minimal 30x50cm2
sebanyak 4 buah atau bak perkecambahan dari kayu dengan ukuran 50 x 100cm2.
2.
Mengisi
bak perkecambahan dengan pasir halus yang telah diayak setebal 10-15 cm.
3.
Meletakkan
bak yang telah diisi pasir tersebut dibawah naungan yang telah disiapkan
terlebih dahulu, tepatnya dirumah kaca laboratorium agronomi fakultas pertanian
universitas bengkulu.
4.
Menyiapkan
benih dan memperlakukan dengan abu
a. Mengambil buah coklat yang telah masak,
buah benih coklat dipecah dengan menggunakan pisau, kemudian benih dipotong
menjadi 3 bagian (1/3 bagian ujung, 1/3 bagian tengah, 1/3 bagian pangkal).
b. Dalam memperlakukan benih dengan abu,
yaitu campuran benih dengan abu yang telah diberi sedikit air, lalu digosok
dengan pelan-pelan benih yang tercampur abu tersebut hingga merata, kemudian
benih tersebut dicuci dengan air hingga bersih.
5.
Benih
yang telah diperlakukan selanjutnya ditanam dalam bak perkecambahan dengan
jarak tanam 3 x2 cm. Peletakkan masing-masing perlakuan dalam bak perkecambahan
diacak, kemudian masing-masing perlakuan diberi label untuk memudahkan dalam
pengamatan dan pasir dalam bak dibasahi.
6.
Melakukan
penyiraman setiappagi dan sore, dalam penyiraman agar diperhatikan untuk tidak
merubah posisi benih yang telah ditanam tersebut.
7.
Membersihkan
tempat perkecambahan tersebut dari gangguan herba yang tumbuh dengan
menggunakan tangan secara hati-hati.
8.
Mengamati
setiap hari benih yang dikecambahkan tersebut, dan mencatat apabila ada benih
yang berkecambah untuk setiap perlakuan, pengamatan dilakukan sampai batas
waktu yang telah ditentukan.
3.5 Sifat-sifat tanaman yang diamati adalah
sebagai berikut:
·
Tinggi
bibit, yang diukur dari leher akar sampai ujung tanaman.
·
Jumlah daun yang terbentuk pada
masing-masing bibit untuk setiap perlakuan.
·
Diameter batang
BAB VI
Hasil dan Analisis data
4.1 Hasil pengamatan
|
TINGGI TANAMAN
|
||||
|
PERLAKUAN
|
ULANGAN
|
JUMLAH
|
||
|
I
|
II
|
III
|
||
|
AOC1
|
6.15
|
1.95
|
3.35
|
11.45
|
|
AOC2
|
7.95
|
9.65
|
6.65
|
24.25
|
|
AOC3
|
11.07
|
9.34
|
10.31
|
30.72
|
|
A1CI
|
9.25
|
8.65
|
7.35
|
25.25
|
|
A1C2
|
7.39
|
9.65
|
9.90
|
26.94
|
|
A1C3
|
9.24
|
9.10
|
8.70
|
27.04
|
|
A2C1
|
7.50
|
6.90
|
6.50
|
20.90
|
|
A2C2
|
9.05
|
7.77
|
6.40
|
23.22
|
|
A2C3
|
9.60
|
10.43
|
8.39
|
28.42
|
|
A3C1
|
8.10
|
7.00
|
9.90
|
25.00
|
|
A3C2
|
9.15
|
7.90
|
7.85
|
24.9
|
|
A3C3
|
8.74
|
9.55
|
10.10
|
28.39
|
|
JUMLAH
|
103.19
|
97.89
|
95.40
|
296.48
|
|
TABEL ANAVA
|
||||||
|
SK
|
dB
|
JK
|
KT
|
F.HIT
|
F.TAB
|
|
|
PERLAKUAN
|
9
|
59.27
|
6.59
|
0.79
|
|
|
|
GALAT
|
20
|
167.49
|
8.3745
|
|
|
|
|
TOTAL
|
29
|
226.76
|
|
|
|
|
4.2
Pembahasan
Berdasarkan hasil
pengamatan dapat kita ketahui bahwa tanaman kakao (benih kakao) yang
diperlakukan dengan beberapa jenis abu sangat berbeda. Abu yang digunakan
pada praktikum ini adalah abu alang-alang, abu dapur dan abu sekam.
Sedangkan bahan tanam yang digunakan berasal dari tiga bagian buah kakao yaitu
bagian pangkal, bagian tengah dan bagian ujung. Dari data pengamatan dapat kita
lihat bahwa rata-rata tinggi tanaman tertinggi terdapat pada perlakuan abu
alang-alang yaitu 9 cm sedangkan rata-rata tanaman kakao terendah terdapat pada perlakuan
kontrol yaitu 7.37 cm. Hal ini terjadi karena pada perlakuan kontrol, biji
kakao tidak diperlakukan apa-apa sehingga pulp yang terdapat pada biji kakao
tetap ada akibatnya biji kakao yang dikecambahkan akan lama mengeluarkan
kecambah. Peristiwa ini terjadi karena pulp yang membungkus biji mempunyai
suatu rekatan yang apabila mengering dapat melengketkan dengan biji kakao
sehingga biji kakao lama berkecambah. Pulp kakao ini juga mengandung rasa yang
agak manis sehingga akan mengundang serangga untuk mengerogoti biji kakao
akibatnya banyak biji kakao yang tidak tumbuh.
Sedangkan
tanaman kakao tertingggi terdapat pada perlakuan abu alang-alang. Hal ini dapat
terjadi karena pada abu alang-alang butiran abu alang-alang sangat halus
dibandingkan dengan abu lainnya sehingga jika abu ini digosokkan pada biji
kakao maka biji kakao akan lebih cepat tumbuh. Hal ini terjadi pulp bisa
memperlamat pertumbuhan kakao tetapi jika pulpnya dihilangkan maka kakao
tersbut akan cepat tumbuh.
Untuk
sumber biji yang berasal dari bagian buah juga berpengaruh terhapa tingggi
tanaman. Pada data diatas dapat dilihat
bahwa tingi tanaman tertinggi diterdapat pada bii yang berasal dari ung buah
hal ini dikarenakan pda bagian ujung buah, biji tanaman lebih cepat tuanya
dibandingkan pada bagian awal karena pembentukan biji yang paling awal adalah
bagian ujung dahulu kemudian bagian awal. Sedangkan tinggi tanaman terendah
terdapat pada biji yang berasal dari bagian pangkal hal ini terjadi karena buah
bagian pangkal terjadinya lebih belakangan sehingga tuanya benih juga lebih
lambat dan ini akan berpengaruh pada pertumbuhan tanaman.
Jumlah
daun terbanyak terdaapat pada perlakuan
abu alang-alang sedangkan jumlah daun paling sedkit terdapat pada perlakuan
kontrol (tanpa perlakuan). Jumlah daun beturut-turut adalah 3,7 (abu
alang-alang), 3,59 (abu sekam), 3,27 (abu dapur) dan 2,6 (kontrol). Dari data
tersebut dapat kita ketahui bahwa semakin ada perlakuan penggosokan pada benih
maka semakin cepat tumbuhnya benih dan jumlah daunnya pun semakin banyak. Hal
ini telah dibuktikan pada praktikum ini, bahwa jika ada penggosokan yang dapat
menghilangkan pulp pada biji kakao maka biji tersebut akan lebih cepat tumbuh
dibandingkan tanpa perlakuan penggosokan. Pertumbuhan ini dapat berupa
bertambahnya tinggi tanaman dan jumlah daun. Selain itu semakin halus bahan
pengosokan maka semakin banyak pula pulp yang lepas sehingga kecepatan
pertumbuhan tanaman semakin tinggi hal ini bisa dibuktikan dengan perlakuan
penghilangan pulp kakao. Misalnya abu alang-alang lebih halus dari abu dapur
dan abu sekam sehingga pertumbuhan tanaman akan lebih cepat dan jumlahnya pun
smakin tinggi.
Bagian
buah yang diambil untuk dijadikan benih juga berbeda daa hal kecepatan
pertumbuhan tanaman. Pada praktikum ini jumlah daun terbanyak terdapat pada
buah bagian ujung yaitu 3,75 sedangakn jumlah daun paling sedikit yaitu pada bagian
pangkal yaitu 2,73. dari data ini dapat kita lihat bahwa semakin ujung bagian
biji yang diambil untuk dijadikan benih maka pertumbuhannya semakin cepat
tetapi semakin pangkal benih tersebut dijadikan benih maka pertumbuhannya
semakin lambat. Hal ini diduga pada bagian pangka suplai nutrisi hara pada buah
semakin berkrang dibandingkan pada bagian ujung karena pada bagian ujung lebih
dahulu terbentuk biji sedangkan pada bagian pangkal terbentuk lebih blakangan.
Akibatnya benih yang tumbuh dari bagian ujung lebih cepat jika dibandingkan
dengan asal benih dari bagian pangkal.
Dari
interaksi kedua perlakuan tersebut dapat kita ketahui bahwa tinggi tanaman
tertinggi terdapat pada perlakuan kontrol yang dikombinsaikan dengan biji yang
berasal dari buah bagian ujung. Tentunya ini tidak seperti pada hipotesis
pertama sebab perlakuan kontrol adalah perlakuan yang paling sedikit dalam hal
julah daun maupun tingi tanaman tetapi jika telah dimbinasikan maka perlakuan
ini adalah perlakuan yang terbaik karena memiliki rerata tinggi tanaman yang
paling tinggi yaitu 30,72 cm. Tanaman yang paling rendah justru terdapat pada
kombinsai perlakuan kontrol dapa bagian buha yang pangkal yaitu 11.45 cm. Hal
ini terjadi karena pada kombinasi ini biji tidak mendapat perlakuan dalam
menghilangkan pulp dan biji diambil dari buah yang paling pangkal. Hipotesis
kita perlakuan ini memiliki tinggi tanaman yang paling rendah dan hal ini dapat
dibuktikan pada perlakuan tesebut.
Meskipun
tinggi tanaman tertinggi terdapat pada kombinasi perlakuan kontrol dengan
sumber biji bagian ujung tetapi rata-rata tinggi tanaman tertinggi terdapat
pada perlakuan abu alang-alang yaitu sebesar 26,41 cm lalu abu sekam 26,09 cm,
abu dapur 24,41 cm dan terakir kontrol yaitu 21,99 cm. Sedangkan tinggi tanaman
yang paling tinggi dari suber biji bagian ujung yaitu sebesar 28,64 cm lalu
bagian tengah yaitu 24,82 cm dan bagian pangkal yaitu 20,65 cm. Data ini cukup untuk menggambarkan bahwa kita
sebaiknya menggunakan abu alang-alang kita akan menghilangkan pulp dari biji
kakao bila kita akan mengecambahkan kakao sebab dengan mengunakan pulp yang
lebih halus butirannya maka pulp yang menempel pada biji kakao akan lebih cepat
lepas sehingga biji kakao akan cepat tumbuh dan berkembang. Sedangkan bagian
buah yang baik untuk dikecambahkan adalah baian ujung sebab pada bagian
ini suplai bakal tanaman muda telah siap
dbandingkan dengan bagian tengah aau pangkal. Tetapi bagian ini tidak baik jika
digunakan untuk bibit sebab bagian ini kurang bagus untuk hasil tanaman. Meskipun
pertumbuhan awalnya baik tetapi bagian ini tidak baik untuk dijadikan bibit.
KESIMPULAN
Adapun
kesimpulan yang kami buat pada praktikum ini adalah:
- Tinggi tanaman tertinggi terdpat
padaa perlakuan abu alang-alang dan terendah terdapat pada perlakuan
kontrol sedangkan bagian buah yang terbaik untuk tingggi tanaman adalah
bagian ujung dan yang tidak baik adalah bagian pangkal.
- Tanaman yang paling banyak jumlah daunnya terdapat pada perlakuan abu alang-alang dan terendah terdapat pada perlakuan kontrol sedangkan bagian buah yang terbaik untuk jumlah daun tanaman adalah bagian ujung dan yang tidak baik adalah bagian pangkal.
- Kombinasi yang terbaik untuk tinggi tanaman adalah kombinasi abu alang-alang dengan bagian ujung buah sedangkan bagian yang paling tidak baik adalah perlakuan kontrol dengan pangkal buah.
- Perlakuan yang paling baik jika diperlakukan sendiri-sendiri adalah perlakuan abu alang-alang dengan bagian buah bagian ujung.
- Meskipun bagian ujung paling baik untuk pertumbuhan awal tetapi hal ini tidak baik untuk tanaman yang berproduksi tinggi sebab bagian ujung memiliki produksi tanaman yang rendah justru sebaiknya bagian tengah buah.
DAFTAR
PUSTAKA
Anonim. 2012.
Profil singkat komoditi Kakao. www.iccri.net. Download 21 juni 2008.
Hasan. 2012. Budidaya tanaman coklat. http://groups.yahoo.com/group/agromania/. Download 21 Juni 2008.
Prabowo, A.Y. 2006. Pembibitan Tanaman Coklat. http://docs.yahoo.com/info/terms/. Download 21 Juni 2008.
Prasetyo, dkk. 2012. Penuntun praktikum Budidaya Tanaman Tahunan. Laboratorium Agronomi UNIB, Bengkulu.
Prasetyo, dkk. 1997. Bahan Kuliah Produksi Tanaman Perkebunan I. Fakultas Pertanian UNIB, Bengkulu.
ACARA IX
KOMPATIBILITAS OKULASI BEBERAPA BATANG
BAWAH DENGAN BATANG ATAS TANAMAN KARET
(Hevea brasilinsis. Muell arg)
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tanaman karet merupakan salah
satu komoditi perkebunan yang menduduki posisi cukup penting sebagai sumber
devisa non migas bagi Indonesia, sehingga memiliki prospek yang cerah. Oleh
sebab itu upaya peningkatan produktifitas usahatani karet terus dilakukan
terutama dalam bidang teknologi budidaya.
Produktivitas karet saat ini
mutunya masih sangat rendah. Petani belum menanam karet unggul. Sekian banyak
faktor penyebab diantaranya, kebanyakan masyarakat hanya menanam bibit karet
asal dari biji (seedling), keterbatasan modal dan pengetahuan petani,
ditambah lagi dengan usaha peremajaan karet tua yang sudah tidak produktif lagi
sangat lambat. Field
manager ICRAF-Jambi, (lembaga pusat penelitian untuk wanatani agroforestry)
Beberapa alternatif untuk meningkatkan produksi
karet diantaranya, petani karet perlu
menanam jenis atau klon karet yang dianjurkan nasional dari bahan tanam yang berkualitas
baik. ”Dalam hal ini petani yang terpenting, perlu dilakukannya pelatihan yang
kontinue kepada petani karet tentang pembudidayaan karet unggul. Sehingga para
petani benar-benar tahu bagaimana memilih bibit yang berkualitas, pemeliharaan,
pengendalian penyakit, dan teknik penyadapan” harus menanam bibit karet unggul
dari okulasi yang jelas entresnya (sumber mata okulasi karet) bukan yang
asal-asalan. Namun yang terpenting lagi, perlu dilakukannya pelatihan yang kontinue kepada
petani karet tentang pembudidayaan karet unggul. Sehingga para petani
benar-benar tahu bagaimana memilih bibit yang berkualitas.
I.2 Tujuan
Untuk mengetahui
kompatibilitas batang bawah yang berasal dari biji enam klon karet dengan dua
klon enters.
I.3 Manfaat yang diharapkan
Setelah melakukan kegiatan
praktikum ini diharapkan kami mengetahui cara tehnik okulasi yang baik dan
kesesuaian antara batang atas dan bawah untuk melakukan okulasi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Karet merupakan tanaman
berumah satu (monoceous), yang dapat menyerbuk sendiri ataupun silang dengan
bantuan serangga. Tanaman karet mulai berbunga pada umur 7 tahun, dan
pembungaan terjadi pada akhir musim penghujan dengan proses, mula-mula tanaman
menggugurkan daun hingga tanaman kelihatan gundul, kemudian keluar kuncup baru
bersamaan dengan mulainnya pembungaan. (Soedharoedjian, 1983)
Perbanyakan tanaman karet
dapat dilakukan secara generatif maupun vegetatif. Namun demikian, cara
perbanyakan yang lebih menguntungkan adalah secara vegetatif yaitu dengan
okulasi tanaman. Okulasi sebaiknya dilaksanakan pada awal atau akhir musim
hujan dengan tahapan sbb:
·
Buatlah jendela pada batang bawah dengan ukuran panjang 5
cm dan lebar 1/2 - 3/4 cm.
·
Buatlah perisai pada entres dengan ukuran lebih kecil
dari jendela dan mata diambil dari ketiak daun.
·
Bukalah jendela pada batang bawah kemudian selipkan
perisai diantara kulit jendela dan kambium
·
Tutuplah kulit jendela kemudian dibalut dengan rafia atau
pita plastik yang
tebalnya 0,04 mm.
·
Minggu setelah penempelan, penbalut dibuka dan periksalah
perisai.
· Potonglah batang
bawah pada ketinggian 10 cm diatas tempelan dengan arah pemotongan miring.
(Balai Penelitian Getas, 2003) Klon-klon yang dianjurkan sebagai bibit
batang bawah adalah: GTI, LCB 1320 dan PR 228. (Balai Informasi Pertanian Irian
Jaya, 1992)
Okulasi berasal dari bahasa Belanda “oculatif” atau
dalam bahasa Inggris disebut ”Budding” yaitu penempelan satu mata tunas (bud)
sebagai batang atas kepada batang bawah, sehingga terbentuk kombinasi tanaman
baru. Okulasi pada tanaman karet bertujuan untuk
menyatukan sifat baik yang domiliki batang bawah dan batang atas. Dari hari
okulasi akan diperoleh bahan tanaman karet unggul berupa stump mata tidur,
stump mini, dan stupm tinggi. (Prasetyo dkk, 2012)
Stum okulasi mata tidur (OMT)
adalah batang bawah yang telah diokulasi dengan mata okulasi terpilih. Stum
okulasi mata tidur tahan hidup seragam, mudah dikemas, mudah diatur dan mudah
diangkut. Stump mini yaitu panjang stump 50 cm dengan kulit batang telah
berwarna coklat, stump ini telah berumur 12-18 bulan setelah pemotongan.
Okulasi tinggi yaitu merupakan okulasi mata tidur yang tidak dipindahkan ke
kebun dan mata enters dibiarkan bertunas, serta tunas ini dipelihara selama 24-36
bulan di pembibitan. Panjang stump 250-300 cm. Stump tinggi okulasi membutuhkan
waktu 3-4 tahun sedangkan bibit yang lainnya antara 1-2 tahun.(Laxman Joshi,
2005)
Okulasi langsung terhadap
anakan karet dilapangan secara teknis dapat dilakukan dibawah tajuk dengan
naungan ringan. Keberhasilan okulasi dan pertumbuhan tunas setara dengan di
tempat tajuk terbuka, khususnya untuk klon PB260. Pertumbuhan tunas secara
nyata dipengaruhi oleh tajuk dan faktor faktor kompetisi lainnya yang ada.
Okulasi langsung dibawah tajuk lebat tidak disarankan untuk dilakukan. Diantara
dua klon yang diuji, PB260 sedikit lebih baik dari RRIC100. Hal ini memberikan
petunjuk bahwa kedua klon ini, sebagaimana klon klon lainnya yang dipakai,
telah dipilih berdasarkan penampilannya di tempat terbuka dan bebas dari
persaingan sekelilingnya. Uji coba terhadap berbagai klon untuk okulasi dibawah
tajuk dengan berbagai kondisi akan dapat memberikan informasi penampilan klon
pada kondisi diatas. Manipulasi terhadap
ukuran tajuk dilakukan secara hati hati dan pengurangan pengaruh vegetasi di
atas tanah terhadap tanaman baru akan dapat menambah keberhasilan tumbuh dan
pertumbuhan tanaman yang diokulasi langsung.
(Balai Penelitian Getas, 2003)
Tanaman
hasil okulasi memiliki beberapa keunggulan bila dibandingkan dengan perbanyakan
stek atau cangkokan yaitu: 1) perakarannya kuat. 2) Tahan terhadap serangan
hama dan penyakit, 3) kualitas dan kuantitasnya lebih baik. Disamping kelebihan
okulasi juga memiliki kelemahan yaitu tingkat keberhasilannya rendah bila
okulasi terhadap spesies yang berbeda, sebab antara batang atas dan batang
bawah terdapat perbedaan fisiologi. Disamping itu untuk tanaman yang bergetah
tinggi yaitu seperti nagka, manggis, sawo, dan duku, tingkat keberhasilan
okulasi juga rendah. Tehnik okulasi dapat dibedakan menjadi empat yaitu:
okulasi T, okulasi Fokert. Okulasi Hukum, dan okulasi Segi empat. (Prasetyo, 2012)
BAB III
METODOLOGI
3.1
Bahan dan Alat
Bahan dan alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah
GT-1, PR-300, AVROS-2037, RRIM-600, klon local Bengkulu yaitu cenggri 1 dan
Cenggri 2 sebagai batang bawah dan BPM-1, PBM-26 sebagai batang atas, plastic
pembungkus es sebagai pengikat hasil okulasi dan vaselin, pisau okulasi, kertas
label, dan polybag.
3.2
Metode pelaksanaan
Praktikum
ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), yang disusun secara factorial. Factor pertama adalah batang atas
yang terdidri dari dua klon, dan factor kedua adalah batang bawah yang terdiri
dari enam (6) biji klon.
Adapun factor I batang
atas terdiri dari:
- A1 = BPM-1
- A2 = PBM
-26
Faktor II batang bawah
terdiri dari:
- B1 = GT-1
- B2 = PR-300
- B3 = AVROS-2037
- B4 =
PRIM-600
- B5 = Lokal
Cenggri 1/2
3.3
cara kerja
Teknik
okulasi yang digunakan pada praktikum ini adalah teknik okulasi segi empat.
Adapun tahapan okulasi segi empat adalah:
- Batang
bawah diiris dengan bentuk segi empat atau bujur sangkar dengan panjang
sisi-sisinya 1,2 cm. Dengan menggunakan sudip (ujung belakang pisau
okulasi) kulit nyang telah diiris tersebut dikelupas dengan hati-hati,
kemudian irisan tersebut ditempelkan kembali agar kambium tidak mengering.
- Batang
atas/mata tunas diiris segi empat sesuai dengan bentuk irisan batang bawah
tetapi ukurannya sedikit lebih kecil.
- Selanjutnya
menempelkan mata tunas pada batang bawah, pada bagian luka diolesi dengan
vaselin selanjutnya diikat dengan tali plastik.
- Hasil
okulasi dapat dilihat pada hari ketujuh setelah okulasi dengan membuka
plastik pengikat. Okulasi jadi ditandai dengan masih tetap hijaunya mata
tunas, sedangkan mata tunas yang berwarna coklat menandakan sambungan
tidak berhasil/mati.
3.4 Sifat-sifat tanaman yang diamati adalah
sebagai berikut:
Ø
Persentase okulasi yang jadi
(%)
Ø
Panjang tunas (mm)
Ø
Jumlah daun (helai)
Ø
Diameter tunas (mm)
BAB IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
4.1
Hasil Pengamatan
Dalam praktikum ini kami tidak melakuan pengamatan lebih lanjut, kami hanya
memfokuskan pada teknik/cara pengokulasian yang baik. Dalam praktikum ini kami
juga tidak melakukan analisis data sehingga data yang terkulpul tidak dapat
kami amati secara langsung tetapi kami hanya melakuakn percobaan okulasi
langsung pada bahan tanam.
4.2
Pembahasan
Berdasarkan praktikum yang kami
lakukan, pada dasarnya tanaman karet mudah untuk diokulasi. Hal ini dapat
dibuktikan secara langsung pada praktikum ini. Hanya saja kegagalan yang menimpa
berupa keringnya mata okulasi sehingga mata okulasi tidak dapat tumbuh. Tanaman
karet merupakan tanaman yang berasal dari kelas dikotil sehingga tanaman ini
dapat dengan mudah untuk diokulasi. Tehnik okulasi juga tidaklah terlalu sulit
namun yang penting disini adalah bahan tanam yang dijadikan sebagai okulasi benar-benar terjamin
kelangsungannya.
Dalam tehnik okulasi ini
yang pertama harus kita perhatikan dalah persiapan bahan tanam yang akan kita
okulasikan yaitu batang bawah telah benar-benar siap untuk diokulasi.
Cirri-ciri batang bawah telah siap untuk diokulasi yaitu batangnya telah
memiliki mata tunas, telah berumur 4-8 bulan tergantung pada stump yang akan
kita gunakan (stump mata tidaur, stump tinggi dan lain-lain). Setelah siap maka yang terpenting adalah mata tunas yang akan diokulasikan
yaitu mata tunas yang berasal dari tanaman yang sehat dan segar. Apabila mata
tunas tidak segar mata kemungkinan pertumbuhan okulasi akan terhambat bahkan
mata okulasi akan gagal atau tidak tumbuh. Selain itu yang hal yang penting
adalah iklim tempat tumbuhnya tanaman. Iklim juga sangat mempengaruhi
pertumbuhan karena iklim juga dapat memperhambat atau bahkan mendorong
tumbuhnya tanaman. Misalnya iklim penghujan akan menghambat jadinya okulasi
karena dapat mengagalkan mata okulasi untuk bersatu. Demikian pula dengan iklim
yang panas klarenaiklim panas dapat mengurangi persediaan air sehingga bahan
okulasi akan kekeringan dan mata okulasi tidak tumbuh. Kesemua factor ini
sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan okulasi.
Pada praktikum ini factor yang sangat
perberan dalam gagalnya okulasi tumbuh adalah bahan mata okulasi yang diambil
sudak agak kering sehingga tumbuhnya mata tunas menjadi sangat kecil bahkan
tidak ada yang tumbuh. Selain itu adanya iklim yang kurang baik untuk masa
okulasi, karena selama okulasi berlangsung cuaca sangat panas dan tidak ada
hujan. Hal ini juga sedikit banyak mempengaruhi tumbuhnya mata tunas. Dengan
kondisi yang demikian maka pertumbuhan mata tunas juga semakin kecil. Selain
factor diatas ada juga beberapa kesalahan yang dilakukan oleh praktikan dan
kesalan ini sangat fatal karena mengokulasi tidak pada mata tunasnya, akibatnya
mata tunas tidak tumbuh karena tempat keluarnya mata tunas tidak ada.
Pada praktikum ini ada beberapa batang bawah yang akan
dicobakan untuk kompatibelnya dengan batang atas yaitu GT-1, PR-300,
AVROS-2037, PRIM-600, Lokal Cenggri 1 dan lokal Cenggri 2 sedangakan batang
atas yang kan dicobakan adalah BPM-1 dan BPM-26. kesemua batang bawah dan
batang atas ini tentunya memiliki keunggulan tersendiri misalnya batang bawah
unggul dalam kekuatan akarnya didalam tanah, tahan penyakit busuk akar, tidak
mudah rebah dan lain-lain sedangkan keungulan batang atas seperti lateks
tanaman banyak, besar dan memiliki kandungan lateks yang tinggi.
Sebenarnya
kompatibilitas tanaman karet tidaklah terlalu sedikit karena walaupun batang
bawah berasal dari jenis lain tetapi sebenarnya jenis tersebut masih dalam satu
famili yaitu euphorbiacecae sehingga sifat kompatibelnya masih tinggi. Oleh
sebab itu okulasi pada tanaman karet pada dasarnya banyak yang jadi karena
hubungan kekerabatan yang dekat antar jenis klon yang diokulasikan hanya saja
faktor ada pembatas yang perlu dijaga agar kompatibilitas okulasi dapat terjadi
untuk menghasilkan tanaman karet hasil okulasi.
KESIMPULAN
Beberapa hal yang perlu
kami simpulkan pada praktikum ini adalah ;
Ø Banyak faktor
yang mempengaruhi tumbuh tidaknya okulasi tanaman karet diantaranya iklim,
lingkungan dan tanaman itu sendiri dan orang yang melakukannya.
Ø Pada dasarnya
okulasi pada tanaman karet memiliki sifat kompatibel yang tinggi karena tanaman
karet diokulasikan masih dalam satu famili sehingga hubungan kekerabatan
semakin dekat dan kompatibel semakin tinggi.
Ø Pada okulasi
tanaman karet masing-masing tanaman yang akan diokulasi akan memberikan sifat
unggulnya masing-masing misalnya sifat ungul dari batang bawah dan dari batang
atas.
Ø Teknik okulasi
sebenarnya mudah dilakukan tetapi membutuhkan ketelitian dan faktor pendukung
yang baik agar okulasi tanaman karet dapat berhasil.
DAFTAR PUSTAKA
Balai Penelitian Getas, 2003. Bibit Karet Klonal
dalam Polibag Cocok untuk Lahan Bekas Hutanrubbergetas@indo.net.id.
Download 21 juni 1008.
Joshi, L. 2005. Peningkatan Kapasitas dan
budidaya tanaman karet. http://www.worldagroforestrycentre.org/sea. Download 21 juni 1008.
Prasetyo, dkk. 2012. Penuntun praktikum Budidaya Tanaman Tahunan. Laboratorium Agronomi UNIB, Bengkulu.
Prasetyo, dkk. 1997. Bahan Kuliah Produksi Tanaman Perkebunan I. Fakultas Pertanian UNIB, Bengkulu.
Soedharoedjian.
1983. Diktat Pedoman Praktek Bercocok Tanam Karet. Fakultas Pertanian UGM,
Yogyakarta.
ACARA IV
PEMELIHARAAN
TANAMAN KARET
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Karet merupakan komoditi
ekspor yang mampu memberikan kontribusi di dalam upaya peningkatan devisa
Indonesia. Ekspor Karet Indonesia selama 20 tahun terakhir terus menunjukkan
adanya peningkatan dari 1.0 juta ton pada tahun 1985 menjadi 1.3 juta ton pada
tahun 1995 dan 1.9 juta ton pada tahun 2004. Pendapatan devisa dari komoditi
ini pada tahun 2004 mencapai US$ 2.25 milyar, yang merupakan 5% dari pendapatan
devisa non-migas.
Sejumlah lokasi di Indonesia
memiliki keadaan lahan yang cocok untuk pertanaman karet, sebagian besar berada
di wilayah Sumatera dan Kalimantan.Luas area perkebunan karet tahun 2005
tercatat mencapai lebih dari 3.2 juta ha yang tersebar di seluruh wilayah
Indonesia. Diantaranya 85% merupakan perkebunan karet milik rakyat, dan hanya
7% perkebunan besar negara serta 8% perkebunan besar milik swasta. Produksi
karet secara nasional pada tahun 2005 mencapai angka sekitar 2.2 juta ton.
Jumlah ini masih akan bisa ditingkatkan lagi dengan memberdayakan lahan-lahan
pertanian milik petani dan lahan kosong/tidak produktif yang sesuai untuk
perkebunan karet.
Dengan memperhatikan adanya
peningkatan permintaan dunia terhadap komoditi karet ini dimasa yang akan
datang, maka upaya untuk meningkatakan pendapatan petani melalui perluasan
tanaman karet dan peremajaaan kebun bisa merupakan langkah yang efektif untuk
dilaksanakan. Guna mendukung hal ini, perlu diadakan bantuan yang bisa
memberikan modal bagi petani atau pekebun swasta untuk membiayai pembangunan
kebun karet dan pemeliharaan tanaman secara intensif.
Karet (termasuk karet alam)
merupakan kebutuhan yang vital bagi kehidupan manusia sehari-hari, hal ini
terkait dengan mobilitas manusia dan barang yang memerlukan komponen yang
terbuat dari karet seperti ban kendaraan, conveyor belt, sabuk
transmisi, dock fender, sepatu dan sandal karet. Kebutuhan karet alam
maupun karet sintetik terus meningkat sejalan dengan meningkatnya standar hidup
manusia. Kebutuhan karet sintetik relatif lebih mudah dipenuhi karena sumber
bahan baku relatif tersedia walaupun harganya mahal, akan tetapi karet alam
dikonsumsi sebagai bahan baku industri tetapi diproduksi sebagai komoditi
perkebunan.
Pertumbuhan ekonomi dunia
yang pesat pada sepuluh tahun terakhir, terutama China dan beberapa negara
kawasan Asia-Pasifik dan Amerika Latin seperti India, Korea Selatan dan Brazil,
memberi dampak pertumbuhan permintaan karet alam yang cukup tinggi, walaupun
pertumbuhan permintaan karet di negara-negara industri maju seperti Amerika
Serikat, Eropa Barat dan Jepang relatif stagnan.
1.2
Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum
ini adalah untuk mengetahui cara budidaya yang baik pada tanaman karet.
1.3. Manfaat yang Diharapkan
Setelah praktikum ini
praktikan dapat mengetahui dan melakukan cara budidaya tanaman karet dengan
baik dan benar.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Untuk membangun kebun karet
diperlukan manajemen dan teknologi budidaya tanaman karet yang mencakup Pada
dasarnya tanaman karet memerlukan persyaratan terhadap kondisi iklim untuk
menunjang pertumbuhan dan keadaan tanah sebagai media
tumbuhnya.
Iklim Daerah yang cocok untuk
tanaman karet adalah pada zone antara 150 LS dan 150 LU. Diluar itu pertumbuhan
tanaman karet agak terhambat sehingga memulai produksinya juga terlambat.
Curah hujan Tanaman karet
memerlukan curah hujan optimal antara 2.500 mm sampai 4.000
mm/tahun,dengan hari hujan berkisar antara 100 sd. 150 HH/tahun. Namun
demikian, jika sering hujan pada pagi hari, produksi akan berkurang.
Tinggi tempat Pada dasarnya tanaman
karet tumbuh optimal pada dataran rendah dengan ketinggian 200 m dari
permukaan laut. Ketinggian > 600 m dari permukaan laut tidak cocok untuk
tumbuh tanaman karet. Suhu optimal diperlukan berkisar antara 250C
sampai 350C.
Angin Kecepatan angin yang
terlalu kencang pada umumnya kurang baik untuk penanaman karet
Tanah Lahan kering untuk
pertumbuhan tanaman karet pada umumnya lebih mempersyaratkan sifat fisik
tanah dibandingkan dengan sifat kimianya. Hal ini disebabkan perlakuan
kimia tanah agar sesuai dengan syarat tumbuh tanaman karet dapat dilaksanakan
dengan lebih mudah dibandingkan dengan perbaikan sifat fisiknya. Berbagai
jenis tanah dapat sesuai dengan syarat tumbuh tanaman karet
baik tanah vulkanis muda dan
tua, bahkan pada tanah gambut < 2 m. Tanah vulkanis mempunyai sifat fisika
yang cukup baik terutama struktur, tekstur, sulum, kedalaman air tanah, aerasi
dan drainasenya, tetapi sifat kimianya secara umum kurang baik karena kandungan
haranya rendah. Tanah alluvial biasanya cukup subur, tetapi sifat fisikanya
terutama drainase dan aerasenya kurang baik. Reaksi tanah berkisar antara pH
3,0 - pH 8,0 tetapi tidak sesuai pada pH < 3,0 dan > pH 8,0. Sifat-sifat
tanah yang cocok untuk tanaman karet pada umumnya antara lain :
- Sulum tanah sampai 100 cm, tidak terdapat batu-batuan dan lapisan cadas
-
Aerase dan drainase cukup
- Tekstur tanah remah, poreus dan dapat menahan air
- Struktur terdiri dari 35% liat dan 30% pasir
- Tanah bergambut tidak lebih dari 20 cm
- Kandungan hara NPK cukup dan
tidak kekurangan unsur ha (Chairil Anwar, 2001)
Harga karet alam yang membaik
saat ini harus dijadikan momentum yang mampu mendorong percepatan pembenahan
dan peremajaan karet yang kurang produktif dengan menggunakan klon-klon unggul
dan perbaikan teknologi budidaya lainnya. Pemerintah telah menetapkan sasaran
pengembangan produksi karet alam Indonesia sebesar 3 - 4 juta ton/tahun pada
tahun 2025. Sasaran produksi tersebut hanya dapat dicapai apabila minimal 85%
areal kebun 6 karet (rakyat) yang saat ini kurang produktif berhasil
diremajakan dengan menggunakan klon karet unggul (Balai Penelitian Informasi
Irian Jaya, 1992)
Kegiatan pemuliaan karet di
Indonesia telah banyak menghasilkan klonklon karet unggul sebagai penghasil
lateks dan penghasil kayu. Pada Lokakarya Nasional Pemuliaan Tanaman Karet
2005, telah direkomendasikan klon-klon unggul baru generasi-4 untuk periode
tahun 2006 – 2010, yaitu klon: IRR 5,
IRR 32, IRR 39, IRR 42, IRR 104,
IRR 112, dan IRR 118. Klon IRR 42 dan IRR 112 akan diajukan pelepasannya
sedangkan klon IRR lainnya sudah dilepas secara resmi. Klon-klon tersebut
menunjukkan produktivitas dan kinerja yang baik pada berbagai lokasi, tetapi
memiliki variasi karakter agronomi dan sifat-sifat sekunder lainnya. Oleh
karena itu pengguna harus memilih dengan cermat klon-klon yang sesuai
agroekologi wilayah pengembangan dan jenis-jenis produk karet yang akan
dihasilkan. Klon-klon lama yang sudah dilepas yaitu GT 1, AVROS 2037, PR 255, PR 261, PR 300, PR 303, RRIM 600, RRIM 712, BPM 1, BPM 24, BPM 107, BPM
109, PB 260, RRIC 100 masih
memungkinkan untuk dikembangkan, tetapi harus dilakukan secara hati-hati baik
dalam penempatan lokasi maupun sistem pengelolaannya. Klon GT 1 dan RRIM 600 di
berbagai lokasi dilaporkan mengalami gangguan penyakit daun Colletotrichum dan
Corynespora. Sedangkan klon BPM 1, PR 255, PR 261 memiliki masalah
dengan mutu lateks sehingga pemanfaatan lateksnya terbatas hanya cocok untuk
jenis produk karet tertentu. Klon PB 260 sangat peka terhadap kekeringan alur
sadap dan gangguan angin dan kemarau panjang, karena itu pengelolaanya harus
dilakukan secara tepat (Tehnis Budidaya agrokoplek, 2012)
BAB III
METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan di
lahan percobaan laboratorium Agronomi fakultas pertanian Universitas Bengkulu
pada bulan maret sampai dengan mei 2012.
3.2 Bahan dan Alat
Adapun bahan dan alat yang
digunakan dalam praktikum ini adalah bibit karet hasil okulasi yang telah
memiliki payung dua, cangkul, pisau, pupuk kandang, pupuk urea, SP-36, dan KCL.
3.3 Metode Pelaksanaan.
Ptaktikum ini dilakukan dengan
menggunakan rancangan acak kelompok lengkap (RAKL).
3.4
Cara Kerja
Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam
praktikum ini adalah:
Ø Pembukaan lahan secara manual, yaitu
dengan menebas kayu-kayu dan semak-semak, dan mengumpulkannya di pinggir lahan
praktikum
Ø Pembuatan lubang tanam dengan ukuran 50 x
50 x 50 (cm) dengan jarak tanam 7m x 2.5 m
Ø Seminggu setelah pembuatan lubang tanam
lalu diberikan pupuk kandang pada masing-masing lubang tanam masibg-masing
lubang tanam diberikan lebih kurang 3 kg pupuk kandang dan dibiarkan selama 1
minggu.
Ø Pupuk kandang kemudian dicampur dengan
tanah top soil dari galian lubang tanam lalu
dilakukan penanaman karet.
Ø Dua minggu setelah penanaman dilakukan
pemupukan anorganik yaitu urea, SP-36, KCL masing-masing 50 gr/tanaman
Ø Selama praktikum dilakukan pemeliharaan
yang meliputi penyiraman, penyiangan gulma dan pengendalian hama dan penyakit.
3.5
Sifat-Sifat yang Diamati
Adapun variabel yang diamati
dalam praktikum ini adalah:
1.
Tinggi tanaman.
Tinggi tanaman diamati
seminggu setelah tanaman dengan cara menggukur tanaman mulai dari titik okulasi
sampai ketitik tumbuh tertinggi tanaman dengan mengunakan penggaris (mistar)
2.
Diamter batang
Pengukuran diameter batang
dilakukan seminggui setelah tanaman, dengan cara mengukur lingkar batang
tanaman 5 cm diatas okulais dengan mengunakan jangka sorong.
3.
Pertambahan Tinggi Tanaman
Pertambahan Tinggi Tanaman Di
Peroleh Dengan Mengurangkan Pengukuran Tinggi Tanaman Pada Minggu Terakhir
Dengan Pengukuran Tinggi Tanaman Pada Minggu Pertama, Selisihnya Adalah
Merupakan Pertambahan Tinggi Dari Tanaman Tersebut.
4.1
Pertambahan Diameter Batang Tanaman
Pertambahan Diameter
Batang Tanaman Di Peroleh Dengan
Mengurangkan Pengukuran Diameter Batang Tanaman Pada Minggu Terakhir Dengan
Pengukuran Diameter Batang Tanaman Pada Minggu Pertama, Selisihnya Adalah
Merupakan Pertambahan diameter batang dari tanaman tersebut.
BAB IV
HASIL DAN ANALISIS HASIL
4.1
Hasil Pengamatan
Ulangan 1
|
Sample
|
pengamatan I
|
pengamatan II
|
pengamatan III
|
Pertambahan
|
|||||||
|
TT
|
D
|
TT
|
D
|
TT
|
D
|
TT
|
D
|
||||
|
1
|
39.5
|
0.57
|
30.7
|
|
65
|
0.8
|
25.5
|
0.23
|
|||
|
2
|
66.9
|
0.8
|
60.45
|
|
63
|
0.85
|
-3.9
|
0.05
|
|||
|
3
|
30
|
0.7
|
30.4
|
|
65
|
1.05
|
35
|
0.35
|
|||
|
4
|
82.2
|
0.9
|
80.2
|
|
68
|
1
|
-14.2
|
0.1
|
|||
|
5
|
53
|
0.7
|
40.85
|
|
51
|
0.8
|
-2
|
0.1
|
|||
|
6
|
51
|
0.6
|
50.1
|
|
52
|
0.6
|
1
|
0
|
|||
|
7
|
38.7
|
0.51
|
30.8
|
|
53
|
0.7
|
14.3
|
0.19
|
|||
|
8
|
37
|
0.52
|
40.5
|
|
33
|
0.7
|
-4
|
0.18
|
|||
|
9
|
42.6
|
0.5
|
20.1
|
|
38
|
0.68
|
-4.6
|
0.18
|
|||
|
10
|
26.3
|
0.61
|
30.3
|
|
46
|
0.8
|
19.7
|
0.19
|
|||
|
|
|
|
|
rata-rata Pertambahan
|
|
9.983333
|
0.177222
|
||||
|
|
|
|
|
jumlah pertambahan
|
|
|
189.6833
|
3.367222
|
|||
ULANGAN 2
|
Sample
|
pengamatan I
|
pengamatan II
|
pengamatan III
|
Pertambahan
|
||||
|
TT
|
D
|
TT
|
D
|
TT
|
D
|
TT
|
D
|
|
|
1
|
48
|
0.82
|
55
|
|
60
|
0.87
|
12
|
0.05
|
|
2
|
37
|
0.54
|
44
|
|
49
|
0.59
|
12
|
0.05
|
|
3
|
60
|
0.91
|
67
|
|
72
|
0.96
|
12
|
0.05
|
|
4
|
53.4
|
0.88
|
65
|
|
70
|
0.93
|
16.6
|
0.05
|
|
5
|
57.1
|
0.86
|
64
|
|
69
|
0.91
|
11.9
|
0.05
|
|
6
|
63
|
0.92
|
70
|
|
75
|
0.97
|
12
|
0.05
|
|
7
|
39
|
0.53
|
36
|
|
41.7
|
0.58
|
2.7
|
0.05
|
|
8
|
45
|
0.67
|
52
|
|
57.3
|
0.72
|
12.3
|
0.05
|
|
9
|
43
|
0.64
|
50
|
|
55
|
0.69
|
12
|
0.05
|
|
10
|
36
|
0.58
|
43
|
|
48.1
|
0.63
|
12.1
|
0.05
|
|
|
Rata-rata pertambahan
|
11.09444
|
0.051111
|
|||||
|
jumlah pertambahan
|
210.7944
|
0.92
|
||||||
Tabel Rata-Rata Pertambahan Tinggi Dan Diameter Tanaman Karet :
|
Rata-rata pertambaha TT
|
Rata-rata pertmabahan D
|
||
|
u1
|
u3
|
u1
|
u3
|
|
8.318182
|
11.09
|
0.177222
|
0.05
|
4.2 Pembahasan
Tanaman karet memiliki prospek
ke depan yang sangat bagus, karena karet merupakan salah satu yang memberikan kontribusi yang cukup besar
di pasaran Internasional disamping komoditi yang lain sebagai penghasil non
migas. Dalam budidaya karet ini tidaklah terlalu sulit, sama saja dengan
budidaya tanaman perkebunan lainnya pada umumnya, hanya saja dalam budidaya
karet ini diperlukan ketelitian dan ketelitian yang tinggi jika bibit yang
digunakan dalam penanaman adalah merupakan bibit dari okulasi.
Dari hasil praktikum yang kami
lakukan (penanaman karet) yaitu pada grafik rata-rata pertambahan tinggi dari pada tanaman karet tampak sangat jelas
perbedaan antara kedua ulangan, pada ulangan pertama rata-rata pertambahan
tinggi tanaman karet cukup rendah sedangkan pada ulangan 2 rata-rata
pertambahan tinggi tanaman karet cukup tinggi. Terjadinya perbedaan yang sangat
signifikan ini mungkin dipengaruhi oleh faktor lingkungan tempat tumbuhnya
tanaman misalnya seperti kesuburan tanah, selain itu pada saat tanaman memasuki
umur 3 MST, tanaman pada ulangan 1 diserang oleh hama (kambing). Dalam hal ini
setengah dari bagian tanaman habis dimakan oleh hama tersebut, sehingga
pertumbuhan tanaman menjadi terhambat karena tanaman mengalami stagnasi yang
terlalu lama. Dan pada saat tersebut tanaman harus membentuk tunas yang baru
dan saat dilakukan pengamatan terkahir tunas-tunas tersebut belum berkembang
dan masih sangat kecil-kecil, sehingga mengakibatkan rendahnya rata-rata
pertambahan tinggi tanaman karet pada ulangan1. maka dari itu diperlukan
pengawasan yang lebih ketat terhadap serangan hama tersebut, sehingga proses budidaya
dapat berlangsung lebih baik.
Sedangkan untuk diameter
batang tidak terlalu berbeda, namun rata-rata diameter yang tertinggi
didapatkan pada tanaman karet pada ulangan 1. hal ini mungkin disebabkan
intensitas naungan yang mungkin berbeda antara kedua ulangan tersebut, karena
dengan intesitas yang lebih tinggi tanaman akan memanjang sehingga hasil
fotosintesis akan dialokasikan untuk pemanjangan batang tanaman.
KESIMPULAN
Dari hasil praktikum ini maka kami dapat
menyimpulkan beberapa hal:
Ø Teknik budidaya karet pada umumnya adalah
sama dengan tanaman tahunan yang lainnya.
Ø Pertumbuhan tanaman akan sangan tergangu
jika terlalu lama mengalami stagnasi.
Ø Tingkat naungan pada tanaman akan
mempengaruhi laju fotosintesis dan perbesaran diameter pada batang.
Ø Pembentukan tunas baru pada tanaman karet
cukup lama, dikarenakan kandungan getah yang cukup banyak sehingga terkadang
batang tanaman karet menjadi mengering.
DAFTAR PUSTAKA
Balai Penelitian Getas, 2003. Bibit Karet Klonal
dalam Polibag Cocok untuk Lahan Bekas Hutanrubbergetas@indo.net.id.
Download 21 juni 1008.
Joshi, L. 2005. Peningkatan Kapasitas dan
budidaya tanaman karet. http://www.worldagroforestrycentre.org/sea. Download 21 juni 1008.
Prasetyo, dkk. 2008. Penuntun praktikum Budidaya Tanaman Tahunan. Laboratorium Agronomi UNIB, Bengkulu.
Prasetyo, dkk. 1997. Bahan Kuliah Produksi Tanaman Perkebunan I. Fakultas Pertanian UNIB, Bengkulu.
Soedharoedjian.
1983. Diktat Pedoman Praktek Bercocok Tanam Karet. Fakultas Pertanian UGM,
Yogyakarta.
Acara VII
Perlakuan Benih Sebelum Dikecambahkan Terhadap Pertumbuhan
Kecambah Kopi (coffea canephora)
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Perbanyakan tanaman secara generatif adalah perbanyakan
tanaman dengan mengawinkan dua individu tanaman atau bagian dari individu yang
terpisah sehingga menghasilkan individu baru yang memiliki campuran sifat kedua
tanaman induknya. Perbanyakan generatif biasanya dilakukan dengan spora tau
benih.
Keuntungan yang diperoleh dari perbanyakan generatif adalah sebgai
berikut :
1. Merupakana
cara perbanyakan tanaman yang paling muirah, murah seta tidak memrlukan tenaga
ahali.
2. biasanya
menghasilkan tanaman yang lebih sehat, produkrif dan daya hidupnya lebih lama.
3. memungkinkan
adanya perbaikan-perbaikan lewat persilangan baru
4. menghasilkan
tanaman yang berakar tunggang dalam sehingga tahan terhadap bahaya kekeringan,
banjir, dan tahan rebah.
Adanya keuntungan-keuntungan tersebut diatas maka
beberapa jenis komuditi sesuai maksud dan tujuannya, perbanyakan tanaman secara
generatif ini masih tetap dipertahankan. Sekalipun demikian keberhasilan
perbanyakan generatif sangatlah dipengaruhi oleh mutu/kualitas benih.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi mutu benih yaitu :
1. Kemurnian benih
Benih yang murni adalah tidak tercampur dengan varietas
lain. dan homegen (tidak tercampur dengan kotoran lain)akan dapat memberikan
kepastian jenis tanaman untuk yang menghasilkan dari benih tesebut, oleh karena
itu secra umum benih dapat digolongkan menjadi dua yaitu :
·
Benih murni yaitu benih dari suatu
varietas atau klon atau galur tertentu dan tidak tercampur benih/varietas/galur
yang lain dimana tidak diketahui jenis dan sifatnya.
·
Benih homegen yaitu benih secara
fisik-mekanik tidak tercampur dengan bahan-bahan yang tidak merusak, misalnya
batu kerikil, butir-butir tanah, biji-biji hampa atau rusak dan biji-biji gulma
2. Daya kecambah dan kecepatan kecambah
Daya kecambah/ tenaga tumbuh adalah daya untuk
berkecambah dinyatakan dengan banyaknya biji yang berkecambah dalam jangka
waktu tertentu dan dinyatakan dalam (%). Dan ini menyatakan viabilitas dari
penelitian tersebut. Waktu yang diperlukan untuk berkecamabah ini ternyata
berbeda-beda untuk setiap jenis tanaman. Benih kopi berkecambah setelah 4-6
minggu. Sedangkan benih kopi untuk daya kecam bah10 – 15 hari.
3. Kandungan air
Kandungan air yang terlalu banyak akan mengakibatkan
benih menjadi capat mati karena kakurangan O2, bercendawan atau rusak karena
serangan hama terutama jika rusak lembanganya. Sebaiknya, jika benih kekurangan
air amakan ia akan sulit untuk berkecamabh. Pada dasarnya air diperlukan untuk
melunakkan kulit biji, dengan lunaknya kulit biji maka air akan berpentasi kedalam
biji dan selanjutnya merangsang metabolisme senyawa-senyawa organik. Oleh
karena itu kadar air biji akan cukup tinggi justru akan memacu metabolisme biji
sehingga biji tersebut akan menjadi tidak tahan disimpan. Olah karena itu
puluhankadar air biji sangat menntukan kualitas benih suatau tanaman.
1.2. Tujuan Praktikum
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui cara-cara
memperlakukan benih kopi selama pra-perkecambahan dan untuk melihat pengaruh
perlakuan tersebut terhadap pertumbuhan kecambah kopi.
1.3 Manfaat yang
diharapkan
Setelah melakukan kegiatan praktikum ini diharapkan kami
mengetahui cara mengekstraksi, mengatahui jenis ekstrak apa saja yang dapat
digunakan untuk menghilangkan pulp pada benih kopi dan ekstraksi yang tepat
untuk benih kopi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Tanaman kopi adalah suatu jenis tanaman tropis, yang
dapat tumbuh dimana saja, terkecuali pada tempat-tempat yang terlalu tinggi
dengan temperatur yang sangat dingin atau daerah-daerah yang tandus yang memang
tidak cocok bagi kehidupan tanaman. Daerah-daerah di bumi ini yang tidak cocok
untuk ditanami tanaman kopi, yaitu pada garis Lintang Utara Lautan Pasifik,
daerah tropis di gurun Sahara, dan garis Lintang Selatan seluruh Lautan Pasifik
serta Australia disebelah Utara dimana tanahnya sangat tandus.
Kopi (Coffea spp) adalah species tanaman berbentuk pohon
yang termasuk dalam famili Rubiaceae dan genus Coffea. Tanaman ini tumbuhnya
tegak, bercabang, dan bila dibiarkan tumbuh dapan mencapai tinggi 12 m. daunnya
bulat telur dengan ujung agak meruncing. daun tumbuh berhadapan pada batang,
cabang, dan ranting-rantingnya. Kopi mempunyai sistem percabangan yang agak
berbeda dengan tanaman lain. tanaman ini mempunyai beberapa jenis cabang yang
sifat dan fungsinya agak berbeda.
Daerah asal kopi Arabika adalah pegunungan Ethiopia
(Afrika). Di negara asalnya kopi tersebut tumbuh baik secara alami di
hutan-hutan pada dataran tinggi sekitar 1.500 - 2.000 an dpl. Dari Ethiopia
kopi tersebut tersebar ke negara Arab semenjak tahun 575. Tetapi baru pada abad
XV, yaitu pada tahun 1450 kopi itu menjadi minuman seperti sekarang. Kopi
Arabika pertama sekali dibawa ke Jawa pada tahun 1696 oleh seorang bangsa
Belanda. Tetapi sebagai tanaman perdagangan yang meyakinkan dan pertumbuhannya
menjadi baik, baru pada tahun 1699. Karena terjadinya mutasi kopi Arabika, maka
banyak timbul jenis kecil yang masih termasuk golongan Arabika, seperti:
1. Kopi
Arabika varietas Bourbon, ciri-ciri pohon lebih pendek, cabang-cabang bagian
bawah tidak menurun, melainkan agak naik dan kuat. Daun lebih besar dan daun
pucuk berwarna hijau, produksinya lebih banyak.
2. Jenis
Catura, berasal dari varietas Bourbon. Pohon lebih pendek, tetapi lebih subur.
3. Jenis
Marago, menghendaki iklim dan tempat penanaman seperti kopi Arabika asli.
Pertumbuhan tanaman cepat, buah dan bijinya besar, tetapi tidak begitu lebat.
4. Jenis
Pasumah, terdapat di Sumatera. Bentuk pohon lebih kekar, dan agak tahan
terhadap Hemileia vastarix dari pada jenis Arabika yang murni.
BAB III
METODELOGI
3.1. Bahan dan Alat
Benih kopi, abu dapur, abu alang-alang, abu
sekam.padi/jerami padi, tanah, pasir, pupuk kandang, atap rumbia, tali rapia,
paku, bambu, ember plastik, dithen M-45, label nama, spidol,polibag/bak
perkecambahan, cetok, ayakan diameter 0,5 cm, mistar, termometer dan
sebagainya.
3.2. Metode
pelaksanaan/rancangan yang digunakan
Percobaan/ praktikum ini disusun secara faktorial dengan
pola dasar Rancangan Acak Lengkap (RAL), yang masing-masing diulang 3 kali dan
menggunakan dua factor:
Factor I: macam abu (A), terdiri dari
·
A0 = tanpa ekstraksi (KONTROL)
·
A1= abu dapur
·
A2= abu alang-alang
·
A3= abu sekam padi/jerami padi
Faktor II : Lama Perendaman (P), terdiri dari :
|
Untuk Kelompok I
|
Untuk Kelompok II
|
|
P0 = tanpa perendaman
P1 = Direndam selam 4 jam
P2 = Direndam selama 8 jam
P3 = Direndam selam 12 jam
P4 = Direndam selam 16 jam
|
P0 = tanpa perendaman
P1 = Direndam selam 12 jam
P2 = Direndam selama 18 jam
P3 = Direndam selam 24 jam
|
|
Untuk Kelompok III
|
Untuk Kelompok IV
|
|
P0 = tanpa perendaman
P1 = Direndam selama 16 jam
P2 = Direndam selama 24 jam
P3 = Direndam selama 32 jam
P4 = Direndam selam 40 jam
|
P0 = tanpa perendaman
P1 = Direndam selam 2 jam
P2 = Direndam selama 8 jam
P3 = Direndam selam 14 jam
P4 = Direndam selam 20 jam
|
BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN
ANALISIS
Untuk percobaan ini tidak ada data yang dapat
dikumpulkan karena kegagalan maka tidak ada juga analisis hasil serta
pembahasan.
KESIMPULAN
Dari praktikum yang kami laksanakankan, bahwa faktor
lingkungan sangat berpengaruh terhadap perkecambahan adalah faktor lingkungan.
DAFTAR PUSTAKA
Prasetyo, dkk. 2011. Penuntun Praktikum Budidaya Tanaman Tahunan.
Program Studi Agronomi. ` UNIB, Bengkulu
Danarti. 2007. Budidaya kopi. Penebar Swadaya, Jakarta.
Irawan, G. 2003. Kopi tetap jadi andalan eksport. http://agribisnis.deptan.go.id.
Download 21 mei 2011.
Nur, A.M. 1994. Penyambungan Sebagai Teknologi Alternatif Konservasi Kopi arabika ke
Kopi Robusta. Warta Pusat penelitian Kopi dan Kakao, Jember
Prasetyo, dkk. 1997. Bahan Kuliah Produksi Tanaman Perkebunan I.
Fakultas Pertanian UNIB, Bengkulu.
04.53 by Muhammad Ali Alfi · 0
Langganan:
Postingan (Atom)

